Waspadai Perilaku Bullying pada Anak

Waspadai Perilaku Bullying pada Anak

Apakah Sahabat adalah orang tua yang baru pertama kali menyekolahkan anaknya? Atau, Sahabat adalah orang tua yang baru akan menyekolahkan anaknya? Sebaiknya, Sahabat mengetahui tentang perilaku bullying di sekolah. Beberapa tahun belakangan, perilaku ini menjadi topik penting yang banyak di bahas, baik oleh pemerintah, sekolah, maupun elemen masyarakat lainnya.

Bullying berasal dari kata bully yang artinya menggertak. Di Indonesia sendiri, bullying berarti perilaku menindas atau mengintimidasi.

Seorang ilmuwan psikologi dari Research Center for Health Promotion (Hemil) di Universitas Bergen, Norwegia, Dan Olweus Ph.D pada tahun 1993 mendefinisikan bullying sebagai perilaku negatif yang mengakibatkan seseorang merasa tidak nyaman atau terluka dan biasanya terjadi secara berulang-ulang.

Perilaku bullying bisa terjadi dalam beberapa bentuk. Barbara Coloroso dalam bukunya Stop Bullying, mengklasifikasikan bullying ke dalam empat bentuk, yaitu:

  1. Bullying fisik dilakukan dengan cara memberikan kekerasan fisik kepada korban, seperti memukul, menyekik, menampar, meludahi dan kekerasan fisik lainnya.
  2. Bullying verbal berupa ejekan, fitnah atau penggunaan kata-kata yang bisa melukai perasaan salah satu pihak.
  3. Bullying relasional berbentuk pengabaian, cibiran dan usaha-usaha lain untuk mengasingkan seseorang dari kelompoknya.
  4. Bullying elektronik atau biasa disebut cyber bullying merupakan perilaku bullying yang dilakukan melalui media elektronik seperti internet, media sosial, kamera , televisi atau website dengan tujuan mengintimidasi atau meneror si korban.

Saat ini perilaku bullying semakin hari kian memperihatikan. Penelitian dari The American Justice Department Bullying Suicide mendapati bahwa 1 dari 4 siswa di Amerika pernah mengalami bullying di sekolah.

Demikian pula di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis jumlah kasus yang menempatkan anak sebagai korban bullying pada tahun 2015 mencapai 147 kasus, sedangkan pelaku sebanyak 76 kasus. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya.

Padahal, Bullying merupakan perilaku yang berdampak buruk bagi si anak. Bahkan, dalam beberapa kasus bullying bisa menyebabkan pihak korban nekat melakukan bunuh diri.

Misalnya di Inggris dan Amerika, dimana bullying menjadi penyebab terbesar dari berbagai kasus bunuh diri. Di Indonesia sendiri, dilansir dari liputan6.com, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa 40 persen dari kasus bunuh diri pada anak yang disebabkan oleh bullying.

Tidak hanya itu, bullying juga dapat menyebabkan dampak negatif lainnya. Dirangkum oleh Isabelle Chouinard dari penelitian Smokowski dan Kopasz pada tahun 2005 dampak negatif pada korban bullying bisa berupa:

  1. Mengalami gangguan kecemasan, depresi atau stress berlebihan
  2. Memiliki masalah menjalin hubungan dengan orang lain saat dewasa (memiliki sedikit teman)
  3. Menjadi over-protective kepada anaknya
  4. Memiliki bekas luka kekerasan di tubuhnya
  5. Menjadi pelaku bullying, sebagai bentuk pelampiasan

Dampak negatif dari perlilaku bullying tidak hanya terjadi pada korban, tapi juga pelaku. Baik itu jangka pendek, maupun jangka panjang. Isabelle Chouinard merangkumnya menjadi beberapa poin, sebagai berikut:

  1. Sulit memiliki mental yang sehat
  2. Prestasi yang buruk, baik di sekolah (waktu anak-anak), maupun di tempat dia bekerja (saat dewasa)
  3. Sangat mudah terlibat dalam tindakan kriminal atau bahkan menjadi kriminal
  4. Sering melakukan tindakan kekerasan pada orang lain karena sudah terbiasa sejak kecil

Sahabat tentunya tidak ingin melihat anak Sahabat mengalami dampak-dampak sebagaimana dijelaskan di atas. Oleh karena itu, Sahabat perlu benar-benar memperhatikan perkembangan dan perilaku sang buah hati.

Mengidentifikasi Anak yang Menjadi Korban Bullying

Anak merupakan anugrah
Anak merupakan anugrah

Khawatir anak Sahabat merupakan korban dari bullying? Cara paling mudah mengetahui apakah anak Sahabat merupakan korban bullying atau bukan, adalah dengan mengamati perubahan perilaku sang anak dari waktu ke waktu. Adapun perilaku anak yang mengindisikasikan anak menjadi korban bullying, antara lain:

  1. Depresi

Hal ini sudah dibuktikan melalui penelitian oleh Uba, Yaacob dan Juhari terhadap 280 pelajar di Malaysia pada 2010. Semakin sering anak mengalami perilaku bullying di sekolah, maka anak akan semakin mudah depresi.

Sahabat bisa mengenali kapan anak Sahabat tengah depresi dengan mengetahui beberapa gejala berikut:

  • Pola tidur tidak teratur (sulit tidur atau lebih mudah tidur)
  • Nafsu makan berubah-ubah
  • Malas pergi sekolah (dalam beberapa kasus anak lebih memilih bolos)
  • Cenderung menjadi pendiam
  • Mudah marah atau menangis (di rumah)
  • Cemas yang berlebihan (sering gugup, sulit konsentrasi, dll)
  1. Rendah Diri

Sebuah penelitian menyatakan bahwa siswa dengan penghargaan diri rendah lebih sering menjadi korban bullying. Penelitian tersebut dilakukan oleh Jankauskiene dan tiga orang rekannya terhadap 1.214 pelajar dari 17 SD di Lituania.

Adapun gejalanya bisa Sahabat ketahui dengan mencari tahu apakah anak Sahabat memiliki pandangan seperti ini dalam dirinya:

  • Menganggap dirinya lemah, baik fisik, prestasi, status sosial keluarga, kemampuan finansial, dll)
  • Pesimis dan kurang motivasi untuk berprestasi di sekolah
  • Merasa tidak ada yang ingin berteman dengannya (kesepian)
  • Takut salah dalam mengambil keputusan
  • Memiliki kekhawatiran berlebih (keraguan) akan masa depannya
  1. Masalah dalam Berkomunikasi

Beberapa gejala pada anak dalam bersosialisasi juga telah terbukti mengindikasikan bahwa mereka menjadi korban bullying di sekolah.

Seorang psikolog dari California, Amerika Serikat, menulis dalam sebuah artikel di psychologytoday.com tentang beberapa gejala sosial anak yang menjadi korban bullying, di antaranya:

  • Menarik diri dari pergaulan di sekolah (mengurung diri)
  • Sulit berkomunikasi dengan orang lain, khususnya orang baru
  • Tidak memiliki banyak teman
  1. Tanda-Tanda Fisik

Poin ini khusus untuk gejala anak yang menjadi korban bullying dalam bentuk fisik.  Lebih mudah diketahui, karena menimbulkan bekas di tubuh, seperti luka atau memar. Meski begitu, ada juga keluhan berupa sakit kepala, sakit perut, demam dll.

Mengidentifikasi Anak yang Menjadi Pelaku Bullying

Para psikolog, ilmuwan psikologi dan berbagai profesi yang berkaitan dengan bullying lainnya, tidak hanya melakukan kajian mengenai cara mengidentifikasi anak saat menjadi korban bullying. Mengidentifikasi anak sebagai pelaku bullying, juga turut menjadi kajian para ilmuwan dan profesional dunia.

Untuk mengetahuinya, Sahabat bisa mengamati beberapa perilaku berikut saat sang buah hati:

  1. Kontrol Diri Lemah

Seorang kriminolog dari Amerika, Daniel Pontzer, menyebutkan bahwa pelaku bullying cenderung tidak bisa mengontrol perilakunya. Para ilmuwan mengistilahkannya sebagai impulsif. Sahabat bisa mengamati sejumlah  perilaku pada anak yang mengindikasikan hal ini, bahkan saat anak sedang di rumah:

  • Anak mudah marah (cenderung agresif/emosi meledak-ledak)
  • Bila menginginkan sesuatu harus segera memperolehnya
  • Tidak sabar menunggu giliran
  • Sering memotong pembicaraan orang lain
  1. Hanya Peduli Diri Sendiri/Tidak Punya Rasa Tanggung Jawab Sosial

Apakah si buah hati sering menunjukkan ketidakpedulian terhadap dunia sekitar? Bila iya, kemungkinan besar sang anak juga pernah/menjadi pelaku bullying di sekolah. Sebab, sebuah artikel dalam jurnal Child and School volume 27 nomor 2 tahun 2005, disebutkan beberapa perilaku yang mengindikasikan anak merupakan seorang pelaku bullying:

  • Kurang memiliki empati terhadap orang lain
  • Tidak punya rasa bersalah saat melakukan kesalahan
  • Mendapatkan kepuasan sendiri saat menindas orang lain
  • Sering melanggar peraturan (baik di sekolah, maupun di rumah)
  1. Perilaku Mendominasi

Masih dalam jurnal yang sama, anak yang menjadi pelaku bullying cenderung lebih mudah mencari teman dibanding anak yang menjadi korban. Meski begitu, terdapat motif kekuasaan dibalik pertemanan itu. Beberapa ciri-ciri perilaku mendominasi adalah sebagai berikut:

  • Selalu menganggap pendapatnya paling benar
  • Tidak suka dibantah
  • Senang mengatur orang lain
  1. Mudah Melakukan Kenakalan

Dengan beberapa tanda di atas, maka dengan mudah anak melakukan berbagai bentuk kenakalan (diluar bullying itu sendiri) yang tidak sesuai dengan usianya. Seperti merokok, minum-minuman keras, mencuri, menonton video porno, dll. Untuk itu, bila Sahabat mengetahui si anak melakukan hal ini, maka Sahabat perlu memberi perhatian lebih banyak kepada si anak.

Referensi Jurnal:

Coloroso, Barbara. 2006. Stop Bullying: Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah Hingga SMU. Jakarta: Serambi.

Jankauskiene, Rasa, etc. 2008. Associations Between School Bullying and Psychosocial Factors. Journal Social Behaviour and Personality 36(2): 2008

Olweus, D. 1993. Bullying at school: What We Know and What We Can Do. Malden, MA: Blackwell Publishing.

Pontzer, Daniel. 2010. A Theoretical Test of Bullying Behavior: Parenting, Personality, and the Bully/Victim Relationship. Journal Family Vol (2010) 25:259–273.

Schiltz, Karen L. 2012. Power, Bullies, and Victims: Warning signs of children in trouble. Artikel dari https://www.psychologytoday.com/blog/beyond-the-label/201211/power-bullies-and-victims

Smokowski, PR and Kopasz KH. 2005. Bullying in School: An Overview of Types, Effects, Family Characteristics, and Intervention Strategies. Journal Children & Schools 27(2): 101-110.

Uba, Ikechukwu, Siti Nor Yaacob and Rumaya Juhari. 2010. Bullying and Its’ Relationship with Depression among Teenagers. J Psychology, 1 (1): 15-22 (2010)

Lain-Lain:

Summary Overview Journal Bullying in School: An Overview of Types, Effects, Family Characteristics, and Intervention Strategies by Isabelle Chouinard

Liputan6.com (http://news.liputan6.com/read/2361551/mensos-bunuh-diri-anak-indonesia-40-persen-karena-bullying)

Majalah Gadis Online (http://www.gadis.co.id/aksi/bunuh+diri+akibat+bullying+)

Republika Online (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/12/30/o067zt280-kpai-kasus-bullying-di-sekolah-meningkat-selama-2015)

Situs Resmi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (http://www.kpai.go.id/berita/mengejutkan-bullying-di-sekolah-meningkat-jadi-perhatian-serius-jokowi-dan-kpai/)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here