Wabah Difteri Kembali Terjadi, Kenali dan Waspadai Penyakit Difteri

Sahabat, akhir-akhir ini sedang marak berita tentang penyakit difteri yang mewabah kembali (diphtheria outbreak) di beberapa daerah di Indonesia. Apa itu penyakit difteri, apa saja gejalanya, serta akibat apa saja yang ditimbulkan dari penyakit ini. mari Kita simak ulasan singkat mengenai penyakit difteri ini,  supaya kita lebih paham dan waspada terhadap wabah difteri yang sedang marak terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Difteri adalah termasuk jenis penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini biasanya menginfeksi tenggorokan dan saluran pernafasan bagian atas, serta dapat mengeluarkan racun yang menyerang organ-organ dalam tubuh. Gejala/symptoms yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah nyeri tenggorokan, demam, pembengkakan pada leher, lebih lanjut, jika racun sudah menyebar kedalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf (polyneuropathy), pembengkakan jantung (myocarditis), atau infeksi paru-paru (pneumonia).

Difteri adalah salah satu penyakit yang dapat mengakibatkan kematian, umumnya menyerang anak-anak. Fase yang berbahaya adalah fase saat bakteri sudah mengeluarkan racun/toksin yang disebarkan ke dalam tubuh. Racun/toksin yang dikeluarkan bakteri ini akan membunuh jaringan-jaringan hidup, sehingga menghasilkan selaput abu-abu (jaringan mati) pada organ tubuh. Selaput abu-abu ini biasanya akan terlihat di sekitar mulut tenggorokan, amandel, bahkan pada organ dalam jika sudah menyebar. Selaput abu-abu ini yang mengakibatkan sakit pada tenggorokan atau kesulitan untuk bernafas.

Difteri termasuk penyakit yang sangat mudah menular dan menyebar, karena dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita, pernafasan, atau melalui sekresi cairan tubuh (batuk, bersin, atau percikan ludah). Oleh karena itu, saat terjadi outbreak difteri beberapa waktu lalu, pemerintah gencar mencanangkan program vaksinasi difteri, terutama pada anak, untuk mencegah penularan lebih luas dan lebih jauh. Vaksinasi gratis dapat diperoleh di puskesmas atau posyandu terdekat tempat Sahabat tinggal.

www.pixabay.com

Untuk orang dewasa, umumnya vaksinasi dapat diperoleh di rumah sakit atau klinik-klinik (berbayar) yang menyediakan vaksin difteri untuk dewasa. Karena jenis vaksin yang diberikan untuk orang dewasa berbeda dengan jenis vaksin yang diberikan untuk anak-anak.

Pengobatan yang dilakukan untuk penderita difteri biasanya diberikan antibiotik yang disertai dengan pemberian serum anti-difteri. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri difteri, sedangkan serum anti-difteri berfungsi untuk menawarkan racun/toksin yang dihasilkan oleh bakteri.

Pada dasarnya, Indonesia belum bebas dari penyakit difteri. Menurut data Departemen Kesehatan RI, pada tahun 2015, cakupan vaksin difteri terhadap jumlah penduduk Indonesia masih 63%. Artinya 37% penduduk Indonesia belum memiliki akses terhadap vaksin difteri ini.

Wabah Difteri Tabel
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/InfoDatin-Imunisasi-2016.pdf

Vaksin difteri sebetulnya termasuk kedalam salah satu vaksinasi dasar bagi anak-anak yang diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, 2 tahun, dan 5 tahun. Vaksin difteri pada anak umumnya digabung dengan vaksin tetanus dan pertusis (DTP = Difteri, Tetanus, dan Pertusis). Pada umumnya vaksin DTP dapat mengakibatkan demam pada anak, tapi tidak selalu, karena vaksin bersifat subjektif pada masing-masing individu. Efek yang ditimbulkan dari pemberian vaksin pada individu akan sangat bervariasi antara individu satu dengan lainnya. Jenis vaksin yang mengandung vaksin difteri lain yang umum diberikan di Indonesia adalah Pentabio/Pentavalent (Biofarma), Infanrix (GSK), dan Pediacel (Sanofi).

Outbreak difteri yang diumumkan pemerintah beberapa waktu lalu memiliki banyak penyebab, tidak hanya sekedar cakupan vaksin yang belum menyeluruh. Beberapa faktor non-medis dapat menjadi penyebab outbreak difteri, diantara nya adalah :

  1. Pola hidup sehat yang belum terdoktrin pada setiap keluarga di Indonesia.
  2. Pemukiman padat penduduk yang mempercepat penularan bakteri.
  3. Pola pandang dan kepercayaan masyarakat yang berubah terhadap vaksin semenjak merebaknya isu vaksin palsu.
  4. Adanya pandangan dalam masyarakat bahwa vaksin itu haram. (konfirmasi MUI mengenai vaksin)
  5. Adanya golongan anti-vaksin yang marak di masyarakat.

Setelah memahami apa itu difteri, gejala, dan dampak yang ditimbulkan dari penyakit ini, alangkah baiknya Kita dan keluarga menjaga diri dan mencegah penularan difteri sedini mungkin. Pola hidup sehat serta pemahaman dan pengetahuan mengenai berbagai macam penyakit yang dapat merugikan Kita dan keluarga, perlu dimiliki dan diterapkan pada kehidupan sehari-hari.


Bagi Sahabat yang bermaksud untuk mengikuti program imuniasi difteri yang diadakan pemerintah, dapat memperoleh informasi di Puskesmas atau Posyandu terdekat. Pemerintah di beberapa Kota dan Kabupaten sudah menyiapkan vaksinasi difteri gratis bagi warganya. Selain Puskesmas dan Posyandu terdekat, Sahabat juga dapat mencoba Rumah Sakit terdekat untuk informasi vaksin difteri, tapi khusus selain Puskesmas dan Posyandu, vaksin yang kita peroleh harus berbayar.

Akibat diphtheria outbreak ini, pemerintah menggalangkan ORI (Outbreak Response Immunization) yang akan dilakukan selama 3 tahap, seperti diagram dibawah.

Tetap sehat dan selamat ya Sahabat..


Specialist Editor :

dr. Putri Anggiana Rahmadewi

Sumber :

https://theconversation.com/wabah-difteri-di-indonesia-antara-vaksinasi-dan-antibiotik-87120

http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-14-produk-imunologis-dan-vaksin/144-vaksin-dan-antisera/vaksin-difteri

http://www.alodokter.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here