Vaksinasi, Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

www.pixabay.com
www.pixabay.com

Sahabat, melanjutkan artikel sebelumnya yang membahas penyakit difteri. Penyakit ini erat kaitan nya dengan pencegahannya, yaitu vaksinasi. Mari kita simak pembahasan mengenai vaksin secara umum.

Apa itu Vaksin

Dikutip dari liputan6.com yang memuat hasil wawancara dengan dr. Afiono Agung Prasetyo, Ph.D saat menjadi pembicara di School of Vaccine Journalist di Gedung Pers, Selasa (19/8/2014), Vaksin adalah materi penyebab suatu penyakit yang dimodifikasi sedimikian rupa sehingga ketika masuk ke dalam tubuh tidak menyebabkan sakit. Sedangkan vaksinasi yang juga disebut imunisasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh untuk membentuk kekebalan tubuh melawan penyakit. Materi penyakit pada vaksin tetap memiliki sejumlah sifat sebagai agen penyakit, sehingga nantinya dapat menyebabkan tubuh mengenali penyebab itu. Tubuh yang sudah mengenali penyebab suatu penyakit akan membentuk kekebalan terhadap penyakit itu jika suatu saat tubuh terpapar materi penyakit aslinya. Jadi, vaksinasi adalah salah satu cara agar tubuh memiliki benteng terhadap suatu penyakit.

www.idai.or.id
www.idai.or.id

Sayangnya masih banyak orang yang belum paham akan pentingnya vaksin bagi kesehatan. Jika kita sakit, kita akan berfikir untuk mendatangi dokter, klinik, atau rumah sakit. Tetapi sebetulnya, sakit itu dapat dicegah sebelumnya dengan pola hidup sehat, pemberian vaksin, atau menjaga kebugaran tubuh dengan rutin.

Jadi artinya, vaksin itu adalah salah satu cara untuk mencegah sebelum mengobati. Namun perlu disadari juga, pencegahan itu bukan berarti 100% kita tidak akan terkena penyakit, tetapi kemungkinan terkena penyakit menjadi jauh semakin kecil dengan pemberian vaksin.

Efek Samping Vaksinasi

Pada beberapa kasus, vaksinasi pada individu akan menimbulkan efek seperti demam atau nyeri. Tapi biasanya demam dan nyeri akan hilang dalam jangka waktu 2-3 hari dengan bantuan penurun panas. Hal ini sangat wajar, karena tubuh melakukan reaksi dari materi asing yang dimasukkan ke dalam tubuh. Jika ada kejadian panas yang kemudian diikuti dengan step/kejang, segeralah bawa anak/kerabat Sahabat ke dokter terdekat.

vaksinasi 3
http://mph.sgu.edu

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum vaksinasi dilakukan, yaitu individu yang divaksin harus dalam keadaan sehat, tidak demam atau sakit. Kejadian kejang pada individu setelah vaksiniasi bisa jadi karena kondisi tubuh individu tersebut yang kurang baik saat pemberian vaksin. Hal lain yang sering dikeluhkan dari vaksinasi adalah kemerahan, bengkak, dan nyeri. Bisa jadi hal ini karena alat suntik atau penanganan yang kurang steril saat pemberian vaksin. Jadi, Sahabat tidak perlu khawatir berlebihan pada efek yang akan ditimbulkan dari vaksinasi.

Efek positif yang dihasilkan jauh lebih besar daripada efek negatif yang ditimbulkan dari vaksinasi. Efek negatif ini pun tidak akan selalu terjadi pada setiap individu, karena setiap individu memiliki kondisi spesifik dan berbeda dengan individu lain.

Kekhawatiran pada Vaksin Palsu

Kepercayaan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini menurun terhadap vaksin dikarenakan adanya kejadian vaksin palsu. Jika Kita cermati bersama, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) melalui situs resmi nya menerangkan bahwa vaksin palsu yang beberapa waktu lalu sempat beredar tidaklah berbahaya.

Oknum pembuat vaksin palsu memang bermaksud mencari keuntungan dari penipuan vaksin palsu tersebut. Vaksin palsu tidak berbahaya karena berisi cairan infus NaCl, sedikit antibiotik gentamisin, dan vaksin hepatitis yang diencerkan, sehingga fungsi vaksin nya hilang. Jika dalam pembuatan nya tidak steril, maka akan timbul bengkak, kemerahan, dan demam. Hingga sekarang, tidak ada laporan kasus dampak negatif dari vaksin palsu dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

vaksinasi 1
http://www.who.int

Lebih lanjut, IDAI dalam situsnya menyarankan masyarakat untuk melakukan vaksinasi ulang yang disediakan pemerintah pada individu yang diperkirakan telah mendapatkan vaksin palsu di beberapa rumah sakit atau klinik yang diduga menjadi tempat distribusi vaksin palsu. Vaksin yang dipalsukan hanya jenis vaksin Tripacel (DPaT) dan Pediacel (DPT, HiB, dan Polio IPV) di 14 Rumah sakit dan 6 bidan yang diumumkan polisi dan Badan POM.

Jadi vaksin palsu bukanlah vaksin yang diisikan oleh materi-materi berbahaya yang dimaksudkan untuk tujuan negatif beberapa golongan (semacam senjata biologis). Sahabat juga perlu mencermati berita-berita yang beredar akhir-akhir ini mengenai isu-isu yang belum jelas kebenaran nya. Dengan adanya berbagai macam dugaan yang belum dikonfirmasi kebenarannya justru akan menimbulkan keresahan berlebihan pada diri Sahabat dan lingkungan sekitar Sahabat.

Isu Anti-Vaksin

Satu lagi isu yang selalu melekat dengan kehadiran vaksin, yaitu anti-vaksin. Gerakan anti-vaksin ini sebetulnya sudah ada sejak lama, berawal pada tahun 1867 dengan didirikannya Anti-Vaccination League di Inggris. Jika Sahabat mengikuti sejarah golongan anti-vaksin ini, maka Sahabat akan menemukan isu-isu black campaign golongan ini yang menyangkut pautkan vaksin dengan autisme, kanker, penyebaran HIV, dan lain-lain tanpa adanya bukti ilmiah yang meyakinkan pendapat mereka.

Sama halnya seperti berita hoax di media sosial atau broadcast messages dewasa ini, quotequote dan tulisan-tulisan golongan anti-vaksin sangat cepat menyebar tanpa adanya bukti ilmiah pendukungnya. Sehingga banyak masyarakat yang termakan dengan isu negatif ini dan menerima mentah-mentah bahwa vaksin itu sebetulnya berbahaya dan menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia.

anti vaksin
theatlantic.com

Akhir-akhir ini mungkin Sahabat pernah mendengar konglomerat dan filantropis pemilik Microsoft, Bill Gates, yang melunasi hutang Nigeria kepada Jepang? isu utama Nigeria memiliki hutang adalah karena outbreak polio di negara tersebut. Tahun 2014 Pemerintah Nigeria meminta pinjaman sekitar 1 trilyun rupiah kepada Jepang untuk menanggulangi wabah polio di negaranya yang coba ditanggulangi semenjak 1976.

3 negara di dunia yang belum bebas polio adalah Nigeria, Pakistan, dan Afgahinstan. Pemberantasan wabah polio di ketiga negara tersebut sangatlah kompleks. Tidak hanya berbicara masalah memberikan vaksinasi kepada anak, tetapi terkait dengan situasi politik, konflik internal negara, daerah yang sulit dijangkau, dan infrastuktur yang kurang memadai di negara tersebut.

Beberapa pemerintah daerah di Nigeria memiliki pandangan bahwa vaksin merupakan propaganda negara barat untuk melakukan infertilisasi (dengan menyisipkan sejenis serum didalam botol vaksin) kepada penduduk negaranya, serta penyebaran wabah HIV di negaranya. Pandangan anti-vaksin seperti ini yang mempersulit penanggulangan wabah polio di Nigeria.

Apakah Vaksin Haram?

Isu hangat dan menyebar luas belakangan ini di Indonesia adalah tentang halal atau tidaknya vaksin. Isu vaksin adalah barang haram merebak setelah diketahui bahwa dalam pembuatan vaksin (terutama polio) menggunakan media babi dalam proses pembuatan nya. Sehingga berita vaksin haram ini bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang beragama Islam adalah berita yang sangat menjadi perhatian.

Pada proses pembuatan nya, khususnya vaksin polio, enzim tripsin dari hewan babi memang diperlukan, tapi perlu digarisbawahi, bahwa penggunaan tripsin babi ini bukan sebagai bahan dasar vaksin. Enzim tripsin babi digunakan sebagai katalis untuk memecah protein menjadi peptida (protein dengan ikatan lebih sederhana) dan asam amino.

Sahabat masih ingat konsep katalis dalam pelajaran kimia di SMA..?? pengertian katalis sendiri adalah suatu zat yang digunakan untuk mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan, atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Jadi katalis ini berperan dalam terjadinya reaksi, tapi dia bukan merupakan bahan atau produk dari reaksi kimia. Dengan kata lain, enzim tripsin babi yang digunakan dalam pemecahan protein pada proses pembuatan vaksin tidak menjadi bahan atau produk yang terkandung dalam vaksin.

Peptida dan asam amino ini digunakan sebagai bahan makanan kuman. Artinya, kuman dikembangbiakkan dan diberi makan peptida dan asam amino, kemudian diambil antigen nya untuk diproses selanjutnya menghasilkan vaksin. Pada hasil akhir proses pembuatannya, vaksin sama sekali tidak mengandung enzim/materi yang berasal dari babi. Bahkan, antigen vaksin dari kuman tersebut sama sekali tidak bersinggungan dengan enzim tripsin babi.

pembuatan vaksin
www.idai.or.id

Lebih lanjut mengenai kehalalan vaksin di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa No.4 tahun 2016 tentang Imunisasi. Dalam fatwanya, MUI mengatakan bahwa imunisasi adalah mubah (boleh) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah suatu penyakit.

MUI tetap menyebutkan bahwa vaksin dengan bahan haram/najis tidak diperbolehkan, terkecuali dalam keadaan darurat atau terdesak, yang mana apabila tidak diberikan vaksin dapat menyebabkan kematian, penyakit berat, atau cacat permanen yang mengancam jiwa. Vaksin berbahan haram dapat diperbolehkan, namun dengan catatan adanya keterangan medis yang berkompeten, bahwa belum ditemukan vaksin halal dan suci untuk mencegah penyakit tertentu.

MUI juga merekomendasikan produsen vaksin yang beredar di Indonesia untuk melakukan sertifikasi halal produk vaksin mereka. Namun yang kembali disayangkan adalah vaksin yang beredar di Indonesia yang sudah memiliki sertifikat halal barulah vaksin meningitis dan vaksin flu. Produsen vaksin belum mengajukan sertifikasi halal kepada MUI untuk produk vaksin lain (2017).

ISTIHALAH DAN ISTIHLAK

Istilah “istihalah” adalah perubahan wujud suatu benda dari satu bentuk dengan sifatnya kepada bentuk lain dan dengan sifat yang berubah juga. Perubahan wujud benda dapat diawali dari benda haram lalu menjadi halal, maupun sebaliknya dari halal ke haram. Contohnya adalah anggur yang awalnya benda suci, kemudian diubah melalui proses menjadi khamr, maka menjadi haram.

Pada kasus ini, vaksin bersinggunggan dengan benda haram kemudian dicuci bersih jutaan kali sehingga pada akhirnya terbentuk vaksin yang terbebas dari zat haram.

Istihlak adalah bercampurnya benda najis atau haram pada benda yang suci sehingga mengalahkan sifat najis baik rasa, warna dan baunya. Misalnya satu tetes khamr pada air di kolam renang yang luas. Maka tidak membuat haram air tersebut karena rasa, warna, dan bau dari air kolam renang tidak berubah.

Rekomendasi Vaksinasi Anak oleh IDAI

Sahabat, dalam rangka menjaga keluarga dari berbagai macam penyakit dan akibat buruk lainnya, ada baiknya Kita memberikan vaksinasi kepada anggota keluarga, terutama pada anak-anak. IDAI merekomendasikan vaksinasi pada anak seperti gambar dibawah (dikutip dari halaman www.idai.or.id).

jadwal vaksinasi 2017
www.idai.or.id

Imunisasi dasar yang ditetapkan oleh pemerintah meliputi BCG, DPT, POLIO, CAMPAK dan Hepatitis B. Program imunisasi ini harus mengikuti jadwal yang telah ditentukan kementerian kesehatan melalui Rumah sakit dan puskesmas/posyandu ataupun jadwal yang ditentukan oleh IDAI. Saat ini terdapat lima jenis imunisasi dasar yang disarankan untuk anak dengan jenis dan manfaat sebagai berikut:

  1. BCG
    Mencegah tuberculosis atau TBC, penyakit ini membutuhkan pengobatan tanpa henti setidaknya selama 6 bulan.
  2. Polio
    Mencegah pnyakit polio, virus ini menyerang persyarafan sehingga menyebabkan kelumpuhan pada penderita.
  3. DPT
    Mencegah penyakit Difteri, batuk Pertusis dan Tetanus.
  4. Campak
    Mencegah Campak yang menyebabkan ruam diseluruh tubuh dan menular.
  5. Hepatitis B
    Mencegah terjadinya hepatitis B yang dapat dapat berlanjut menjadi sirosis (pengerasan) hati dan berlanjut menjadi kanker hati.

Selain imunisasi dasar diatas, ada beberapa imunisasi tambahan yang bisa diberikan kepada anak yaitu:

  1. Hib
    Melindungi tubuh dari virus Haemophilus influenza type B, yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan epiglottitis.
  2. PCV
    Melindungi tubuh dari bakteri pnemukokus yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan infeksi telinga.
  3. MMR
    Melindungi tubuh dari virus campak, gondok, dan rubella.
  4. Tifoid
    Melindungi tubuh dari bakteri Salmonella typhii yang menyebabkan demam tifoid atau yang lebih dikenal dengan penyakit tifus.
  5. Hepatitis A
    Melindungi tubuh dari virus Hepatitis A, yang menyebabkan infeksi pada hati.
  6. Varisela
    Melindungi tubuh dari cacar air.
  7. HPV
    Melindungi tubuh dari Humanpapilloma Virus yang menyebabkan kanker mulut Rahim.

Tetap sehat dan selamat ya Sahabat..

 

Referensi :

www.idai.or.id

http://www.halalmui.org/mui14/

Specialist Editor :

dr. Putri Anggiana Rahmadewi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here