Tik Tok Berkomitmen Ikuti Aturan Pemerintah Indonesia

Selasa, 3 Juli 2018 lalu mungkin menjadi hari yang dinanti-nanti banyak orang. Mulai hari itu, aplikasi Tik Tok diblokir pemerintah Republik Indonesia. Pengguna yang mendownload aplikasi Tik Tok tidak dapat lagi mengakses konten melalui jaringan internet. Pemblokiran dilakukan setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Pemerintah beralasan dalam aplikasi asal Tiongkok itu terdapat banyak konten negatif terutama bagi anak. Konten-konten negatif tersebut berupa pornografi, asusila, dan pelecehan agama. Kemkominfo mengaku mendapat tiga ribu aduan dari masyarakat soal konten negatif di aplikasi Tik Tok. Selain dari masyarakat, laporan berasal dari pihak lain, yaitu Kemen PPPA serta KPAI. Petisi pun muncul di laman change.org dan telah ditandatangani oleh lebih dari 150 ribu orang.

Pemblokiran tersebut, dijelaskan Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo, Semuel Pangerapan, hanya sementara. “Pemblokiran bersifat sementara sampai ada pembersihan total konten negatif dan ilegal dari pihak Tik Tok,” tuturnya.

Sampai hari ini (8/7) Belum ada kepastian kapan aplikasi ini akan kembali dibuka karena masih ada hal-hal yang perlu dibahas untuk memastikan aplikasi Tik Tok akan sesuai dengan aturan di Republik Indonesia seperti yang dikutip dari viva.co.id.

Respons Cepat Tik Tok

Dari negeri asalnya, petinggi Tik Tok mendatangi Kemkominfo, pada Rabu, 4 Juli 2018. Senior Vice President Tik Tok, Kelly Zhang, dan Senior Vice President Bytedance Technology (pengembang aplikasi Tik Tok), Zhen Liu, diutus untuk membicarakan pemblokiran aplikasi ini di Indonesia. Pertemuan tersebut melahirkan dua komitmen yang harus dipenuhi. Pertama, Tik Tok harus menjaga aplikasinya tetap bersih dari konten negatif. Kedua, Tik Tok harus membuka kantor operasionalnya di Indonesia.

Zhen Liu mengatakan akan melakukan penyaringan konten dengan memanfaatkan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan serta sistem manual. Selain itu, jika sebelumnya Tik Tok bisa dinikmati pengguna mulai usia 12 tahun, nantinya hanya mereka yang berusia 16 tahun ke atas yang bisa menggunakan platform tersebut.

Saat ini, aplikasi dengan pengguna Indonesia mencapai 10 juta orang itu sudah merekrut sekitar 20 karyawan untuk melakukan penyaringan konten secara manual. Untuk selanjutnya, Tik Tok menargetkan perekrutan 200 karyawan untuk bekerja sebagai moderator konten. “Kami datang ke sini untuk berjanji membuat komitmen yang kuat. Kami akan membuat hubungan baik dengan pemerintah dan berharap bisa membuat suatu hal yang lebih baik,” ujar Liu.

Dikutip dari viva.co.id, menteri Kominfo, Rudiantara, bukan tidak mungkin aplikasi itu  bisa diakses kembali oleh para penggunanya setelah ada komitmen dari Tik Tok. “Mereka bilang akan bersih-bersih. Ok, silahkan. Kalau sudah bersih, nanti kita review,” katanya.

Selanjutnya, pada Jumat, 6 Juli 2018, petinggi Tik Tok juga mendatangi Kemen PPPA. Tujuannya untuk memahami sudut pandang Kemen PPPA tentang kreativitas anak-anak di dunia digital sekaligus melindungi mereka. “Tik Tok berkomitmen untuk mengembangkan standar industri serta memperkuat keamanan online di Indonesia,” kata Liu.

Sekretaris Kemen PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu, menjelaskan Kemen PPPA dan KPAI sudah memiliki undang-undang yang mengatur konten ramah anak. Karena itu, aplikasi atau platform digital yang menjangkau Indonesia harus mengikuti hukum tersebut. Pribudiarta berharap Tik Tok bisa menjadi mitra pemerintah untuk menyebarkan dan mengedukasi masyarakat Indonesia dengan konten positif agar bisa menjadi contoh bagi platform lainnya.

Kreativitas dan Imajinasi

Sejak merambah Indonesia pada September 2017, Tik Tok langsung digemari warganet, dari anak-anak hingga orang dewasa. Aplikasi yang di negara asalnya dikenal dengan nama Douyin itu memungkinkan penggunanya menciptakan video pendek 15 detik dengan berbagai efek unik secara mudah dan cepat. Mulai dari tari hingga komedi hingga lelucon atau penampilan gaya bebas, pengguna—yang disebut pengembang Tik Tok sebagai “pencipta” (creator)—bebas menggunakan imajinasi dan kreativitas liarnya. Hasil kreasi itu kemudian dibagikan ke komunitas atau teman-temannya di media sosial semacam Twitter, Instagram, atau yang lain.

Dari laman Google Play Store, disebutkan dengan penggabungan yang sempurna antara kecerdasan buatan (AI) dan jepretan gambar, aplikasi ini mampu membuat sinkronisasi ritme, efek khusus, dan teknologi canggih. Didukung dengan koleksi musik yang sangat lengkap, termasuk percakapan dan efek suara lainnya, pengguna bisa menyalurkan kreativitasnya tanpa batas.

Dengan segala fasilitas itu, pengguna bisa menciptakan konten-konten kreatif yang menginspirasi, menghibur, dan menarik. Namun, di sisi lain, banyak juga yang menyalahgunakan segala kemudahan itu dengan membuat konten-konten negatif, seperti pornografi, asusila, dan pelecehan agama. Video mengenai pelecehan gerakan salat salah satunya. Atau, gaya berpakaian yang memamerkan sebagian anggota tubuh. Ada juga video gaya berpacaran yang dilakukan anak di bawah umur.

Hal-hal seperti itulah yang meresahkan banyak pihak, terutama orang tua. Mereka khawatir video-video tersebut akan memberikan dampak negatif bagi anak-anak.

Sebenarnya, aplikasi serupa juga banyak bertebaran di Google Play Store. Sebut saja Musical.ly—yang juga dikembangkan oleh Bytedance Technology—, Snapchat, Dubsmash, Vine, Flipagram, dan Cheez. Semuanya sudah diunduh jutaan kali di seluruh dunia. Dubsmash bahkan diklaim sudah diunduh sebanyak seratus juta kali, dua kali lebih banyak dibanding Tik Tok. Namun, Tik Tok-lah yang paling membuat heboh negeri ini baru-baru ini.

Kemunculan media sosial dan berbagai aplikasi lainnya menimbulkan efek positif juga negatif. Diperlukan kedewasaan berpikir dan bertindak dalam berinternet. Karena itu, pembatasan usia pengguna internet memang selayaknya diberlakukan. Pendampingan orang tua terhadap anaknya juga sangat diperlukan untuk mewujudkan program pemerintah, yakni internet sehat dan aman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here