Tentang Beredarnya Vaksin Palsu di Indonesia

Fenomena Vaksin Palsu yang Baru Terkuak di Indonesia

Sahabat, saat ini sedang hangat berita mengenai beredarnya vaksin palsu yang dipakai untuk imunisasi anak di Indonesia. Berita ini tentunya membuat masyarakat menjadi sangat khawatir dan bahkan sampai menyedot perhatian Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Beredarnya vaksin palsu memang bukan hal yang sederhana dikarenakan pentingnya vaksin untuk buah hati. Selain itu, keterangan para pelaku pemalsu vaksin yang mengatakan peredaran vaksin sudah dimulai dari tahun 2003 turut memperburuk kekhawatiran masyarakat terhadap dampak vaksin palsu ini.

Sahabat mungkin menjadi ragu apakah buah hati Sahabat sudah mendapat vaksin yang asli dan aman sesuai rekomendasi dokter. Apakah ada acara untuk mengenali jika buah hati kita terkena vaksin yang tidak asli?

Sebelum mendiskusikan pertanyaan diatas, marilah kita luangkan waktu untuk mengenal apa itu vaksinasi dan bagaimana vaksin bekerja.

Mengenal Vaksinasi atau Imunisasi

Dikutip dari liputan6.com yang memuat hasil wawancara dengan dr. Afiono Agung Prasetyo, Ph.D saat menjadi pembicara di School of Vaccine Journalist di Gedung Pers, Selasa (19/8/2014), vaksinasi yang juga disebut imunisasi berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh melawan penyakit. Jadi, vaksinasi adalah salah satu cara agar tubuh memiliki benteng terhadap suatu penyakit. Sedangkan vaksin adalah materi penyebab suatu penyakit yang dimodifikasi sedimikian rupa sehingga ketika masuk ke dalam tubuh tidak menyebabkan sakit. Materi penyakit pada vaksin tetap memiliki sejumlah sifat sebagai agen penyakit, sehingga nantinya dapat menyebabkan tubuh mengenali penyebab itu. Tubuh yang sudah mengenali penyebab suatu penyakit akan membentuk kekebalan terhadap penyakit itu jika suatu saat tubuh terpapar materi penyakit aslinya.

Imunisasi dasar yang ditetapkan oleh pemerintah meliputi BCG, DPT, POLIO, CAMPAK dan Hepatitis B. Program imunisasi ini harus mengikuti jadwal yang telah ditentukan kementerian kesehatan melalui Rumah sakit dan puskesmas/posyandu ataupun jadwal yang ditentukan oleh IDAI. Saat ini terdapat lima jenis imunisasi dasar yang disarankan untuk anak dengan jenis dan manfaat sebagai berikut:

  1. BCG
    Mencegah tuberculosis atau TBC, penyakit ini membutuhkan pengobatan tanpa henti setidaknya selama 6 bulan.
  2. Polio
    Mencegah pnyakit polio, virus ini menyerang persyarafan sehingga menyebabkan kelumpuhan pada penderita.
  3. DPT
    Mencegah penyakit Difteri, batuk Pertusis dan Tetanus.
  4. Campak
    Mencegah Campak yang menyebabkan ruam diseluruh tubuh dan menular.
  5. Hepatitis B
    Mencegah terjadinya hepatitis B yang dapat dapat berlanjut menjadi sirosis (pengerasan) hati dan berlanjut menjadi kanker hati.

Selain imunisasi dasar diatas, ada beberapa imunisasi tambahan yang bisa diberikan kepada anak yaitu:

  1. Hib
    Melindungi tubuh dari virus Haemophilus influenza type B, yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan epiglottitis.
  2. PCV
    Melindungi tubuh dari bakteri pnemukokus yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan infeksi telinga.
  3. MMR
    Melindungi tubuh dari virus campak, gondok, dan rubella.
  4. Tifoid
    Melindungi tubuh dari bakteri Salmonella typhii yang menyebabkan demam tifoid atau yang lebih dikenal dengan penyakit tifus.
  5. Hepatitis A
    Melindungi tubuh dari virus Hepatitis A, yang menyebabkan infeksi pada hati.
  6. Varisela
    Melindungi tubuh dari cacar air.
  7. HPV
    Melindungi tubuh dari Humanpapilloma Virus yang menyebabkan kanker mulut Rahim.

Sebagai gambaran, rekomendasi dan jadwal imunisasi pada anak usia 0-18 tahun dapat Sahabat lihat pada tabel dibawah. Penulis sangat menyarankan Sahabat untuk berkonsultasi dengan dokter di pusat kesehatan untuk mengenal lebih jauh tentang jenis-jenis imunisasi dan manfaatnya.

Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 - 18 Tahun Rekomendasi IDAI
Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 Tahun Rekomendasi IDAI – Klik untuk memperbesar

CAT_ES_Tentang Imunisasi dan Vaksin Palsu – Jadwal Imunisasi Anak

Beredarnya Vaksin Palsu

Dalam menyikapi beredarnya vaksin palsu di Indonesia, kita harus memahami fakta-fakta terkini yang sudah terungkap kemenkes melalui satgas penanganan vaksin palsunya.

Bahaya utama dari vaksin palsu adalah tidak kebalnya anak terhadap penyakit kemungkinan datang di kemudian hari akibat tidak terbentuknya kekebalan tubuh dari proses vaksinasi yang direncanakan. Bahaya lainnya adalah kemungkinan infeksi bakteri/virus akibat vaksin palsu yang tidak dibuat dengan steril. Meskipun demikian, bahaya pertama bisa Sahabat hindari dengan melakukan tes kekebalan penyakit dan melakukan imunisasi ulang jika memang kekebalannya belum terbentuk. Imunisasi ulang sendiri tidak berbahaya dan disarankan untuk beberapa jenis vaksin. Bahaya timbulnya infeksi karena vaksin yang tidak steril bisa Sahabat sikapi dengan berkonsultasi ke dokter jika anak mengalami gejala infeksi beberapa saat setelah imunisasi dan melakukan pengobatan anti infeksi.

Selain fakta-fakta diatas, ada beberapa hal yang perlu sahabat pertimbangkan dalam menyikapi beredarnya vaksin palsu yaitu:

  1. Mayoritas vaksin palsu yang terindikasi beredar adalah vaksin yang tidak wajib diberikan kepada anak atau hanya pelengkap.
  2. Imunisasi yang dilakukan di fasilitas kesehatan pemerintah dianggap aman dari pemalsuan karena peredarannya diawasi ketat dan langsung dari distributor resmi atau langsung dari produsen seperti PT Biofarma. Vaksin untuk imunisasi dasar wajib di fasilitas kesehatan pemerintah seperti puskesmas adalah vaksin yang diperoleh melalui pengadaan katalog elektronik dari produsen dan distributor resmi. Vaksin jenis ini diberikan gratis di fasilitas kesehatan puskesmas dan rumah sakit pemerintah. Rumah sakit swasta boleh memilih mendapatkan dari pemerintah atau beli sendiri.
  3. Dikabarkan isi vaksin palsu itu campuran antara cairan infus dan gentacimin (obat antibiotik) dan setiap imunisasi dosisnya 0,5 cc. Dilihat dari isi dan jumlah dosisnya, vaksin palsu ini dampaknya relatif tidak membahayakan.
  4. Karena vaksin palsu dibuat dengan cara yang tidak baik, maka kemungkinan menimbulkan tanda infeksi. Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah dilakukan imunisasi. Menkes Nila F Moeloek menyatakan bahwa vaksin yang dipalsukan umumnya adalah vaksin impor yang tidak menimbulkan efek demam pada anak setelah imunisasi. Sementara vaksin yang diberikan gratis oleh pemerintah adalah vaksin yang menimbulkan efek demam pada anak. Jadi Sahabat & dokter anak bisa curiga jika buah hati Sahabat menerima vaksin impor dan mengalami demam.
  5. Anak tetap harus mengikuti beberapa program imunisasi ulang seperti DPT, Polio, Campak. Imunisasi ini tetap disarankan (harus) diulang walaupun tidak ada isu vaksin palsu.
  6. Pemerintah juga akan melakukan imunisasi ulang secara gratis untuk anak yang terindikasi mendapatkan vaksin palsu. Pemerintah Kota Tanggerang bahkan bersiap melakukan vaksinasi ulang untuk semua anak di wilayahnya jika sudah mendapatkan surat edaran dari pemerintah pusat.
  7. Saat tulisan ini dibuat, pemerintah sudah mengumumkan 14 rumah sakit dan 8 bidan di Jabodetabek yang menggunakan vaksin palsu. Hal ini ditentukan berdasarkan perintah pemesanan vaksin instalasi kesehatan tersebut kepada distributor tidak resmi, CV Azka Medika.  Daftar terkini rumah sakit dan bidan yang menggunakan vaksin palsu bisa dilihat di halaman berikut : http://nasional.kompas.com/read/2016/07/14/16083471/ini.14.rumah.sakit.yang.pakai.vaksin.palsu

Pemerintah telah menyampaikan surat edaran kepada seluruh dinas kesehatan maupun rumah sakit negeri dan swasta agar melakukkan pengecekan kondisi vaksin. Hal ini dilakukan untuk lebih memastikan keaslian vaksin, selain tentunya melacak keberadaan vaksin palsu.

Beberapa Indikasi Vaksin Palsu

Masyarakat umum mungkin akan sulit mengenali keaslian vaksin yang belum digunakan. Hal ini karena masyarakat tidak memiliki akses langsung menggunakan vaksin dan penggunaannya pun sangat khusus oleh petugas kesehatan yang telah terlatih dan terdidik untuk memberikan vaksin. Jika Sahabat penasaran bagaimana petugas kesehatan mengenali keaslian vaksin, berikut beberapa ciri yang biasanya terlihat:

  1. Harga jual lebih murah daripada produk asli.
  2. Tidak mencantumkan dot merah, dengan resep dokter.
  3. Vaksin dijual secara bebas.
  4. Kemasan lebih kasar dan tidak bersih.
  5. Nomer batch tidak jelas.
  6. Warna rubber stopper (penutup vial) berbeda dengan produk asli. (Produk asli biofarma berwarna abu-abu atau merah)
  7. Masa kadaluarsa lebih dari 2 atau 3 tahun – tergantung jenis vaksin.
  8. Tidak dijual melalui distributor resmi dan memiliki reputasi baik

Kasus beredarnya vaksin palsu merupakan suatu pukulan bagi dunia kesehatan Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa potensi bahaya bisa datang dari hal yang tidak kita sadari. Akan tetapi, kasus ini tidak semestinya menimbulkan kepanikan yang berlebih terutama karena sebagian besar vaksin yang “wajib” diberikan langsung oleh instalasi kesehatan pemerintah. Jika Sahabat tetap mencurigai buah hati yang terpapar vaksin palsu, Sahabat memiliki pilihan untuk melakukan uji kekebalan dan melakukan imunisasi ulang.

Tips Menyikapi Beredarnya Vaksin Palsu di Indonesia

Sebagai orang tua, Sahabat dapat mempertimbangkan untuk melakukan hal-hal berikut dalam menyikapi beredarnya vaksin palsu di Indonesia:

  1. Jika buah hati sahabat pernah diimunisasi di 14 RS atau 8 bidan yang diumumkan kemenkes, segera klarifikasi ke instalasi kesehatan tersebut. Kemungkinan besar buah hati Sahabat memerlukan vaksin ulang.
  2. Pantau terus perkembangan instalasi kesehatan yang menggunakan vaksin palsu melalui twitter kemenkes (@KemenkesRI), BPOM (@HaloBPOM1500533), atau media berita lainnya. Hal ini diperlukan karena kemenkes menyatakan jumlah instalasi kesehatan yang menggunakan vaksin palsu kemungkinan akan bertambah seiring berkembangnya penyelidikan.
  3. Lakukan imunisasi ulang jika buah hati sahabat terpapar vaksin palsu
  4. Konsultasikan ke dokter dan lakukan tes kekebalan vaksin jika Sahabat mencurigai buah hati yang terpapar vaksin palsu. Ciri-ciri nya bisa dari munculnya demam untuk vaksin yang tidak seharusnya menyebabkan demam atau munculnya gejala infeksi setelah vaksinasi.

Kewaspadaan dan kemauan untuk mempertanyakan hal yang tidak biasa juga sangat bermanfaat. Penulis yakin temuan vaksin palsu ini dikarenakan ada orang-orang yang peduli dan mempertanyakan ketika banyak anak yang malah menjadi sakit setelah diberi vaksin. Tanpa ada sikap seperti ini mungkin saja kasus vaksin palsu ini tidak akan terbongkar sampai kapan pun.

Penulis sarankan Sahabat untuk tetap update mengenai isu ini karena fakta-fakta baru terus muncul seiring penyelidikan kepolisian. Sahabat bisa memfollow akun twitter Kemenkes di @KemenkesRI dan BPOM di @HaloBPOM1500533 untuk mengetahui perkembangan kasus ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here