Swamedikasi, Pemilihan Obat Secara Mandiri

Dalam kehidupan sehari-hari, kadangkala kita mengalami gejala penyakit ringan seperti pusing, nyeri, demam, batuk, pilek, diare, maag, dan lain lain. Untuk menangani gejala tersebut, biasanya kita memilih atau membeli obat secara mandiri sebelum memeriksakan diri ke dokter. Istilah ini dikenal sebagai swamedikasi.

Apakah swamedikasi diperbolehkan? Obat seperti apakah yang diperbolehkan untuk digunakan secara swamedikasi? Swamedikasi dapat dilakukan untuk menangani gejala penyakit ringan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

Swamedikasi yang Bertanggung Jawab

Swamedikasi yang bertanggung jawab adalah bila dilakukan dengan mengonsumsi obat bebas atau obat bebas terbatas. Obat bebas (logo lingkaran hijau) dan obat bebas terbatas (logo lingkaran biru) dapat dibeli langsung di apotek atau toko obat tanpa resep dari dokter. Sedangkan obat keras (logo lingkaran merah bertuliskan huruf ‘K’) hanya boleh dibeli dengan resep dokter.

Penggunaan obat keras tanpa pemeriksaan atau diagnosa oleh dokter terlebih dahulu dikhawatirkan akan menimbulkan resiko bagi tubuh.  Karena itu obat keras tidak boleh digunakan secara sembarangan.

Swamedikasi 1
Logo penggolongan obat

Kenali Gejala Penyakit

Kenali gejala yang dirasakan, misalnya bila batuk maka pastikan apakah batuk tersebut  batuk berdahak atau batuk kering, karena obat yang dibutuhkan untuk kedua jenis batuk tersebut berbeda (baca informasi “Indikasi” pada brosur atau kemasan obat). Jangan sampai Sahabat memilih jenis obat yang tidak sesuai dengan penyakit yang dirasakan.

Kenali Kondisi Tubuh

Kenali kondisi tubuh, misalnya kondisi hamil dan menyusui, adanya penyakit kronis seperti hipertensi, gangguan jantung, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal, atau alergi obat tertentu. Kondisi ini menentukan boleh tidaknya suatu obat digunakan pada pasien tertentu (baca informasi “Perhatian/”Peringatan” dan “Kontraindikasi” pada brosur atau kemasan obat). Beberapa kasus, penggunaan yang tidak tepat tanpa memahami kondisi tubuh, dapat berdampak lebih buruk, misalnya keguguran pada ibu hamil, peningkatan tekanan darah, dan lain-lain.

Minta Rekomendasi

Jika Sahabat memiliki kawan, saudara, atau kerabat yang mengerti tentang obat-obatan, mintalah nasihat dalam penggunaan obat. Sahabat dapat meminta nasihat atau rekomendasi dari apoteker atau asisten apoteker di apotek saat membeli obat, untuk membantu memilihkan obat yang tepat sesuai dengan kondisi yang Sahabat alami, termasuk cara pemakaian obat.

Pahami Aturan Pakai dan Informasi Obat

Sebelum Sahabat mulai mengonsumsi obat, baca dan pahami informasi yang tertera pada brosur atau kemasan obat, diantaranya mencakup:

  • Indikasi (kondisi yang memerlukan efek terapi dari obat)
  • Kontraindikasi (kondisi di mana obat tersebut tidak boleh digunakan)
  • Dosis dan aturan pakai (takaran dan waktu penggunaan obat)
  • Efek samping (efek lain yang dapat terjadi selain efek utama obat pada dosis terapi)
  • Perhatian/ peringatan (kondisi pasien yang memerlukan pemantauan efek berkaitan dengan efek samping)
  • Interaksi obat (pengaruh obat lain terhadap efek obat tersebut jika digunakan bersamaan)
  • Cara penyimpanan dan tanggal kadaluwarsa (simpan obat sesuai petunjuk untuk menjaga kualitas obat).

Ketepatan dosis, waktu, dan cara pakai obat menentukan tercapainya efek yang diinginkan dari obat tersebut. Konsumsi obat yang tidak sesuai dengan dosis pemakaina dapat menimbulkan efek toksik yang membahayakan bagi tubuh.

Hindari Penggunaan Obat Dengan Zat Aktif yang Sama

Hindari penggunaan bersama, dua atau lebih produk obat yang memiliki kandungan zat aktif yang sama. Nama zat aktif obat dapat Sahabat lihat pada kemasan atau brosur yang terdapat dalam kemasan.


Jika Sahabat melakukan atau akan melakukan swamedikasi, perlu dipahami bahwa Sahabat bertanggung jawab penuh atas pemilihan dan penggunaan obat. Upayakan untuk senantiasa berhati-hati dalam mengonsumsi obat. Konsultasikan pada apoteker untuk memilih obat yang sesuai dengan gejala yang dirasakan, petunjuk pemakaian agar memperoleh efek terapi yang optimal dan terhindar dari efek yang tidak diinginkan.


-Fetri Lestari, M.Si., Apt.-

Dosen Program Studi Farmasi Universitas Islam Bandung

Founder Pharmily (Pharmacy Education for Family) Program

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here