Starside Mengajak Anak Indonesia Tanggap Bencana Sejak Dini

Masih jelas ingatan masyarakat Indonesia akan bencana dahsyat tsunami yang melanda Aceh pada bulan Desember tahun 2004 silam. Bumi Serambi Mekkah porak poranda. Tsunami tersebut berdampak secara langsung terhadap sembilan negara, dengan angka kematian 227,000 orang, yang mana lebih dari 167,000 meninggal di Provinsi NAD. Sekitar sepertiga jumlah korban meninggal di Indonesia dan Sri Lanka adalah anak-anak (Unicef, 2009).

Besarnya korban anak pada Tsunami di Aceh lalu menunjukan bahwa anak merupakan salah satu pihak yang paling rentan menjadi korban saat terjadi bencana alam Tsunami. Hal ini diperkuat oleh studi yang dilakukan oleh Norris et.al pada tahun 2002.

Meskipun demikian, anak-anak juga sebaiknya tidak dipandang sebagai obyek tak berdaya. Beberapa studi telah membuktikan bahwa anak-anak pun dapat berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana. Studi-studi tersebut menemukan pentingnya pendidikan kebencanaan untuk anak-anak dalam membantu anak dan keluarga di rumah menghadapi kejadian bencana. Pemerintah Indonesia pun, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama beberapa kementerian/lembaga lain, menyadari pentingnya pelibatan anak-anak dalam penanggulangan bencana. Saat ini mulai ada upaya untuk memasukkan muatan kebencanaan dalam kurikulum pendidikan dasar dan gerakan Sekolah Aman.

Sejalan dengan hal tersebut, StarSide, sebuah komunitas relawan yang fokus pada edukasi kebencanaan untuk anak-anak, melihat pentingnya memberikan edukasi mengenai kebencanaan kepada anak-anak. Pendiri StarSide, Eva Bachtiar, juga menganggap anak-anak merupakan pihak yang paling rentan terhadap bencana. Karena itu, Ia pun melihat adanya kebutuhan mendesak untuk memberikan edukasi kebencanaan kepada mereka.

Alasan Eva dan komunitas Starside dalam mefokuskan diri pada Anak-anak juga karena anak-anak dianggap cenderung lebih berpikiran terbuka pada hal baru dan lebih mudah menyerap materi. Dalam jangka panjang, diharapkan anak-anak ini dapat turut menciptakan generasi dan masyarakat yang sigap bencana.

Tanggap Bencana

Mengutip data United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) pada 2010, Eva menjelaskan bahwa Indonesia, dengan letak geografisnya yang berada di jalur ring of fire, atau deretan gunung berapi di kawasan Pasifik, merupakan salah satu negara paling rawan bencana. Ia pun menyayangkan bahwa penanggulangan bencana yang dilakukan pemerintah dan lembaga lain masih banyak berpusat pada upaya kuratif, bukan preventif. Padahal fakta menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi bencana dapat membuat perubahan yang signifikan dan menyelamatkan banyak nyawa.

StarSide, yang diprakarsai Eva Bachtiar, Sakti Bimanta, dan Ibnu Mundzir, lahir dari keresahan Eva dengan masih sangat jarangnya topik bencana di Indonesia yang dibahas di ruang publik. Bencana, dikatakannya, bukan hal seksi untuk dibahas di Indonesia. Di sekolah pun, edukasi mengenai bencana sangat minim. Padahal, minimnya pengetahuan mengenai tanggap bencana akan mengakibatkan banyak korban. “Kita, orang Indonesia, lebih sering diajarkan untuk nrimo dibanding diajarkan keahlian untuk menghadapinya,” ungkapnya.

Pentingnya memiliki pengetahuan mengenai tanggap bencana ini mendorong terbentuknya StarSide, yang merupakan anagram dari “disaster” atau bencana. “Harapannya, meskipun tidak bisa mengelak dari ancaman dan risiko bencana di negara kita, kita selalu bisa membekali diri dengan ilmu dan kesiapsiagaan.”

Belajar Sambil Bermain

Sejak berdiri pada Agustus 2016, StarSide telah delapan kali menyelenggarakan pendidikan kebencanaan berupa event sehari di delapan sekolah dasar. Komunitas ini memang menyasar kelompok usia 6—12 tahun. Dimulai dari Surabaya sebagai basecamp-nya, diteruskan ke wilayah Sidoarjo dan Malang, hingga pada Maret 2017, StarSide mulai mengadakan pendidikan kebencanaan di Aceh sebagai wilayah yang paling rawan terkena gempa dan tsunami.

Salah satu kegiatan edukasi tanggap bencana yang diselenggarakan oleh Starside Indonesia

Dengan pertimbangan bahwa setiap daerah memiliki potensi bencana yang berbeda -beda, edukasi yang diberikan fokus pada potensi bencana yang paling relevan dengan konteks daerah tersebut. Di Aceh, StarSide memberikan edukasi untuk potensi bencana gempa, tsunami, dan banjir. Adapun di Surabaya dan kota sekitarnya, edukasi difokuskan pada potensi bencana gempa bumi, banjir, dan kebakaran. Pengetahuan dan keterampilan mengenai kebencanaan dikemas dengan permainan dan simulasi yang disukai anak-anak. Konsep dasar pendidikan bencana tersebut diadaptasi dari Jepang dan Thailand, dengan menggunakan gamifikasi dan permainan kreatif yang seru dan menyenangkan, yang disesuaikan dengan kearifan lokal Indonesia.

Sebagai ilustrasi, dalam kegiatan edukasi kebencanaan di Aceh, StarSide mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kebencanaan lewat permainan dan simulasi dengan membentuk beberapa pos. Pos pertama adalah Pos Tas Darurat. Di pos ini, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberi satu tas ransel. Setelah kakak-kakak pendamping memberikan penjelasan mengenai pentingnya menyiapkan tas darurat serta konsep barang-barang yang perlu dimasukkan ke tas tersebut, anak-anak diminta melewati lintasan sejauh lima meter dan mengambil barang-barang yang telah tersusun di dalam lemari. Barang-barang yang dipilih tersebut kemudian dimasukkan ke ransel. Setelah selesai, kakak pendamping melihat dan menanyakan kepada anak-anak mengapa barang-barang tersebut yang dipilih.

Simulasi menghadapi bencana bagi anak oleh Starside Indonesia

Permainan dilanjutkan dengan Pos Simulasi Ceria. Di pos ini, anak-anak diberikan edukasi mengenai cara mengevakuasi diri dalam situasi bencana. Jika berada di lantai satu saat gempa terjadi, segera keluar gedung dan berkumpul di titik kumpul. Begitu juga saat terjadi tsunami, anak-anak diinstruksikan lari ke tempat yang tinggi, seperti bukit dan gunung, dengan membawa tas darurat. Semua langsung dipraktikkan dalam suasana bermain. Anak-anak juga diajarkan prinsip memberikan pertolongan pertama pada luka perdarahan kecil dan patah tulang. Barang-barang yang digunakan adalah yang mudah ditemui namun tetap dijaga kebersihannya. Setelah memberikan pertolongan pertama, anak-anak harus melaporkan keadaan darurat tersebut kepada pihak yang berwenang atau orang dewasa.

Selanjutnya, anak-anak diperkenalkan cara menyiapkan pelampung darurat untuk menghadapi bencana banjir di Pos Pelampung Darurat. Anak-anak belajar membuat pelampung dari barang bekas yang mudah ditemui di sekitar, seperti botol bekas air mineral. Empat botol mineral diikatkan di depan dan belakang badan, di dalam pakaian, dengan bantuan tali rafia. Kemudian tutup botolnya dipasang di luar baju.

Edukasi tanggap bencana bagi anak oleh Starside Indonesia

Di Pos Putar Otak, anak-anak bermain game yang mengasah pemahaman mereka setelah mengikuti beberapa pos simulasi. Di sini, anak-anak dilatih berpikir cepat dan kreatif menggunakan barang-barang yang ada di sekitar untuk survive atau bertahan hidup saat terjadi bencana. Kakak pendamping membagikan 15 kartu alat kepada anak-anak dan mengambil satu kartu situasi secara acak kemudian memperlihatkan kepada anak-anak. Jika kartu situasi yang diambil kakak pendamping berjudul “gempa bumi”, anak-anak diwajibkan memilih kartu alat dari 15 kartu yang disediakan. Mereka akan memilih barang-barang mana saja yang bisa digunakan jika gempa bumi terjadi.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan bernyanyi bersama menggunakan lagu dan gerakan sederhana yang mudah ditiru di Pos Gita Siaga.

Kolaborasi bersama Starside

StarSide tidak pernah memungut biaya dalam semua kegiatan yang diadakannya. StarSide bahkan memberikan kesempatan kepada sekolah-sekolah untuk mengundang komunitas ini untuk memberikan edukasi mengenai kebencanaan. Demi terselenggaranya acara tersebut, StarSide membuka pendaftaran relawan untuk menjadi pendamping. Syaratnya hanya satu: mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk kegiatan yang diadakan StarSide. StarSide juga menerima donasi berupa dana, mainan, dan buku anak-anak yang tidak terpakai untuk dijadikan reward bagi anak-anak setelah bermain.

Informasi mengenai StarSide bisa ditemukan di laman http://starside.id/ atau fanpage @starsidesurabaya. Jika ingin mengundang komunitas ini, bisa membuka http://starside.id/pendaftaran-sekolah tanpa biaya alias gratis.

Dengan motto “Sadar, Siap, Sigap Bencana”, StarSide siap mengedukasi anak-anak Indonesia agar menjadi pribadi yang tanggap bencana.

 

Oleh :

Risye Dwiyani dan Yanuarita Hastuti

 

Referensi:

Children and the 2004 Indian Ocean Tsunami: Evaluation of UNICEF’s Response in Indonesia, Sri Lanka and Maldives (2009). Overall Synthesis Report. United Nations Children’s Fund (UNICEF), New York.

Norris, F.H.; Friedman, M.J.; Watson, P.J.; Byrne, C.M.; Diaz, E.; Kaniasty, K. (2002). 60,000 disaster victims speak: Part I. An empirical review of the empirical literature, 1981–2001. Psychiatry, 65, 207–260.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here