SIAGA Bangun Kesadaran Pentingnya Pertolongan Pertama

Yadi mengeluh nyeri punggung yang amat sangat saat baru tiba di kantor. Ia mencoba minum untuk meredakan rasa sakitnya. Tidak juga mereda, ia meminta seorang rekannya untuk memberi pijatan. Sambil dipijat, ia melipat kedua tangannya di meja dan menundukkan wajahnya. Beberapa menit kemudian, tubuhnya merosot ke lantai. Rekan-rekannya panik, tidak tahu apa yang terjadi. Segera mereka membawa Yadi ke rumah sakit. Di dalam kendaraan, Yadi terdengar mengorok. Kemudian diam. Sesampainya di rumah sakit, dokter menyatakan Yadi sudah meninggal dunia beberapa menit yang lalu. Serangan jantung diagnosisnya.

Umur memang di tangan Tuhan, tetapi sebagai manusia kita wajib berusaha mempertahankan hidup dengan segala cara. Penyesalan akan datang berkepanjangan jika kita menyaksikan orang terdekat meregang nyawa tanpa ada upaya penyelamatan. Seandainya rekan-rekan Yadi tahu apa yang terjadi dan cara memberikan pertolongan pertama, mungkin ceritanya menjadi lain.

Berangkat dari keprihatinan itu, dibentuklah SIAGA, sebuah perusahaan yang memfokuskan diri pada pembangunan emergency awareness & safe and smart community di Indonesia. Perusahaan yang dipimpin Ivan Muliadi ini memiliki komitmen untuk memberikan pengetahuan mengenai pertolongan pertama kepada masyarakat awam yang yang tidak memiliki latar belakang ilmu medis. “Karena pertolongan itu datangnya dari orang di sekitar kita, yang terdekat,” kata Ivan.

Belajar Bareng

SIAGA berawal dari kegelisahan Ivan Muliadi, Mario Gandha, dan Aditya Wirayudha akan minimnya pengetahuan mengenai pertolongan pertama di Indonesia. Tidak seperti di luar negeri, tempat mereka pernah menimba ilmu. Di luar negeri, semua siswa sekolah menengah wajib memiliki pengetahuan mengenai pertolongan pertama setiap tahunnya.

Pengetahuan mengenai pertolongan pertama, dijelaskan Ivan, selayaknya dimiliki setiap orang agar, jika ada anggota keluarga atau orang di sekitarnya yang membutuhkan pertolongan, kita bisa memberikannya secepat dan setepat mungkin. “Setidaknya, kalau ada korban, tidak menunggu-nunggu. Ada pertolongan medis dasar dulu yang dapat dilakukan,” katanya.

PT. SIAGA SOLUSI TERPADU yang dikenal sebagai SIAGA yang berdiri pada bulan Agustus 2017 ini berbagi pengetahuan kepada masyarakat awam melalui seminar dan pelatihan. Pelatihan dilakukan bukan untuk menjadikan orang yang ahli dalam bidang medis tetapi memberikan kemampuan dasar tentang apa yang bisa mereka lakukan apabila terjadi kondisi gawat darurat medis. “Setidaknya level kepanikan kita berkurang dengan mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan,” jelas Ivan.

Selain itu, SIAGA juga bertujuan untuk memberikan sosialisasi perihal no telepon darurat di Indonesia yang masih jarang ketahui banyak orang. Salah satunya 119 untuk pemanggilan ambulan di Indonesia. Namun Pemerintah sudah mencoba 112 di beberapa kota sebagai nomor telepon panggilan yang berfungsi mengumpulkan telepon – telepon darurat yang masuk dan setelah itu di salurkan instansi terkait. Contohnya Kepolisian, Kebakaran ataupun Kesehatan

Pelatihan dan seminar utamanya dilakukan di coffee shop, playground, sekolah, kantor, dan hunian semacam apartemen. Peserta yang mengikuti pelatihan dari SIAGA sangatlah beragam dari komunitas olah raga ataupun perkumpulan – perkumpulan sesame hobi Materi pelatihannya ialah cara melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau yang biasa dikenal CPR bagi orang awam yang baik dan benar bagi korban serangan jantung ataupun cardiac arrest (orang lebih mengenal sebagai angina duduk), juga penanganan orang tersedak (chocking). Umumnya pelatihan dibagi menjadi dua bagian, yakni Part 1 (Bantuan Hidup Dasar – Kecelakaan Non Trauma) dan Part 2 (Bantuan Hidup Dasar – Kecelakaan Trauma). Di Part 1, dibicarakan tentang CPR, pengguaan alat pacu jantung otomatis (AED) penanganan orang tersedak, dehidrasi, dan perdarahan. Adapun di Part 2 materi yang disampaikan lebih fokus kepada cara pertolongan pertama bagi korban trauma (contohnya, bagaimana melepaskan helm bagi korban kecelakaan lalu lintas.

Selain meningkatkan pengetahuan bagi masyarakat awam dalam melakukan pertolongan pertama bagi korban yang membutuhkan pertolongan, SIAGA juga bertujuan ingin menjawab mitos – mitos yang masih beredar di masyarakat yang salah. Contohnya, banyak orang yang masih melakukan pertolongan dengan memberikan nasi kepal untuk ditelah bulat – bulat bagi seseorang yang tertusuk tulang ikan. Atau memberikan air minum bagi korban yang tersedak. Dan masih banyak yang lainnya.

Melalui konsep gerakan Safe & Smart Community, SIAGA bertujuan juga ingin mensosialisasikan pentingnya alat pacu jantung (AED) di fasilitas – fasilitas umum seperti di gedung, pusat kebugaran, perkantoran, sekolah dan lain lain. AED dapat dipakai oleh orang awam yang sudah tersertifikasi CPR dan alat ini berfungsi untuk membaca irama jantung dan menentukan apakah pasien perlu diberikan resusitasi jantung dan paru-paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR).

Pelatihan pertolongan pertama oleh SIAGA
Pelatihan pertolongan pertama oleh SIAGA

Ivan dan rekan-rekan pun ingin menyosialisasikan kepada masyarakat bahwa mempelajari CPR tidaklah rumit. Karena itu, pelatihan yang diberikannya menggunakan bahasa sederhana, bahasa sehari-hari, agar tidak membosankan bagi peserta. Ia pun membuat video untuk mempermudah audiens memahami materi yang diberikannya.

Ivan berharap di masa yang akan datang, Pemerintah Indonesia dapat mendukung kegiatan serupa dan mengeluarkan peraturan yang mengwajibkan sekolah – sekolah untuk mengadakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (salah satunya CPR) siswa setingkat SMP sampai SMA setiap tahunnya seperti yang ada di luar negeri. Melalui peraturan ini, Ivan percaya penduduk Indonesia akan menjadi Safe & Smart Community.

Sertifikasi Memberikan Rasa Percaya Diri

Selain memberikan pelatihan dan seminar, selanjutnya SIAGA memfasilitasi pemberian sertifikat bagi peserta yang telah melalui pelatihan teori dan praktik. Sertifikat ini berguna sebagai perlindungan hukum jika pemegangnya berkesempatan memberikan pertolongan pertama kepada orang di sekitarnya. Berbeda dengan dokter atau perawat yang memiliki ijazah dan izin praktik, orang awam terlatih tidak memiliki perlindungan hukum jika tidak dibekali dengan sertifikat.

Dijelaskan Ivan, biasanya rumah sakit akan menanyakan atas dasar apa seseorang memberikan pertolongan pertama, apakah memiliki sertifikat sebagai tanda kelayakan memberikan pertolongan pertama. “Orang Indonesia itu sangat takut disalahkan. Jiwa menolongnya banyak, tapi tidak tahu caranya. Begitu tahu caranya, takut disalahkan,” katanya.

Sebagai perusahaan fasilitator ilmu Bantuan Hidup Dasar ini, SIAGA bekerja sama dengan Ambulans Gawat Darurat 118 (AGD 118) sebagai official medical partner. Ivan berharap untuk bisa berkolaborasi dan bekerja sama dengan penyedia pelatihan yang lainnya di masa yang akan datang.

Sertifikat yang diberikan bagi orang awam ini hanya berlaku 1 tahun sekali dan harus di perbaharui setiap tahunnya. Hal ini berfungsi untuk mengingatkan kembali peserta bagaiman melakukan pertolongan pertama yang baik dan benar. Ini dilakukan karena bagi orang awam, ilmu ini bukanlah ilmu yang diterapkan setiap harinya. Berbeda dengan dokter atau perawat yang melakukan kegiatan pertolongan di Rumah Sakit setiap harinya. Ivan selalu berpesan di setiap acaranya untuk para peserta untuk terus menyebarkan ilmu yang didapat kepada orang lain seperti keluarga, teman. Ini membantu para peserta untuk mengingat langkah – langkah yang perlu dilakukan jika ada korban yang memerlukan pertolongan. Karena jika tidak dilakukan dalam tiga hingga tujuh hari pasti lupa.

Untuk mendapatkan sertifikat, peserta harus menjalani pelatihan yang diselenggarakan SIAGA yang lamnaya dari tiga jam hingga satu hari. Untuk bisa mengikuti pelatihan ini, Sahabat bisa menghubungi SIAGA melalui akun Instagram @siaga_ies, di email info@siaga-ies.com. Sahabat juga bisa WA Chat ke 0817 770 302.

Pelatihan pertolongan pertama oleh Siaga
Pelatihan pertolongan pertama oleh SIAGA

Aplikasi “Panic Button”

Setelah menelurkan banyak helper atau 1st aider yang siap memberikan pertolongan pertama kepada orang yang membutuhkan, Ivan mengatakan, harus ada sistem terpadu yang menghubungkan korban dan penolong dan rumah sakit terdekat dengan korban atau pemanggil. Untuk itu, SIAGA menginisiasi pembuatan sistem panic button berbasis applikasi. Fungsi sistem ini adalah menghubungkan korban ataupun pelapor dengan penolong terdekat agar korban dapat diberikan pertolongan secepat mungkin. “Jadi, setidaknya, kalau ada korban, tidak menunggu-nunggu, ada pertolongan medisnya dulu yang dilakukan yang dilakukan oleh orang awam terlatih ataupun tenaga medis yang mau menjadi relawan dalam applikasi ini.”

Sistem tersebut diwujudkan melalui aplikasi SIGAPP by SIAGA, dan bisa diunduh di ponsel pintar berbasis Android. Nantinya, aplikasi ini diharapkan bisa menjadi integrated emergency solution di Indonesia. Selain dengan pihak medis, Sigapp direncanakan terhubung dengan kepolisian dan pemadam kebakaran. Jadi semacam nomor darurat 911 di Amerika Serikat dalam bentuk aplikasi. Namun, saat ini, SIAGA masih memfokuskan pengembangan aplikasi ini pada pertolongan medis karena ada golden time yang harus dikejar untuk menyelamatkan jiwa dan masa depan seseorang.

Sigapp terinspirasi dari perkembangan aplikasi ojek online dan e-health. Di aplikasi ojek online, ada driver dan calon penumpang. Ketika membutuhkan ojek, calon penumpang tinggal menentukan posisi dan tujuannya, lalu aplikasi akan mencarikan driver terdekat. Di aplikasi e-health, pengguna bisa berkonsultasi dengan dokter dan mendapat obat dari apotek terdekat. Di aplikasi Sigapp, pengguna bisa menemukan helper terdekat untuk memberikan pertolongan pertama.

Saat ini SIAGA memfokuskan aplikasi ini pada closed community. Sekolah misalnya. Di sekolah, SIAGA melatih beberapa guru untuk menjadi helper. Setelah siap, para guru tersebut dimasukkan ke aplikasi. Ketika ada guru yang meminta pertolongan, helper yang ada di jaringannya adalah guru-guru di sekitarnya. Mereka yang akan mendapat notifikasi. Setelah memberikan verifikasi, helper memanggil ambulans sambil memberikan pertolongan pertama. Di luar closed community-nya, para helper ini juga bisa memberikan bantuan.

Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui nomor darurat jika ada anggota keluarga atau orang terdekat yang membutuhkan pertolongan. Karena itu, SIAGA membuat sistem panic button ini. Jika di dekat korban tidak ada helper, aplikasi akan langsung terhubung dengan 119. Nomor 119 adalah layanan kegawatdaruratan yang disediakan oleh Departemen Kesehatan. Permasalahan di Jakarta salah satunya lalu lintas yang padat, jika hanya menunggu 119 atau ambulan dari rumah sakit, banyak waktu terbuang, sangat mungkin korban kehilangan golden time. SIAGA berharap, dengan banyaknya helper di yang tersedia masa yang akan datang di aplikasi SIGAPP by SIAGA, banyak nyawa yang dapat diselamatkan dari orang yang berada paling dekat dengan korban.

Applikasi SIGAPP by SIAGA, AED, dan ambulans hanyalah sebuah sistem dan alat pendukung bagi korban yang membutuhkan pertolongan. Hal yang terpenting ditekankan SIAGA adalah kepedulian dan kesadaran masyarakat akan masalah kegawatdaruratan. Semakin banyak orang memiliki kesadaran dan kemampuan dalam melakukan pertolongan pertama, akan semakin banyak pasien yang bisa tertolong. Karena 1 nyawa berharga

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here