Sekilas Mengenai Sekolah Ramah Anak

Disiplin Positif

Ketika anak memasuki usia sekolah, Sahabat sebagai orang tua tentu akan memutar otak untuk memilih dan mempertimbangkan berbagai aspek dalam menentukan jenis pendidikan yang akan ditempuh oleh buah hati. Apakah mereka akan bersekolah di sekolah umum, sekolah swasta yang mengadopsi kurikulum dari luar negeri, sekolah dengan muatan pendidikan keagamaan yang kental, atau malah memutuskan untuk home schooling karena tidak percaya dengan sistem sekolah di manapun..??

Apapun pilihan Sahabat, tentu pertimbangan bahwa anak akan menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah akan menjadi alasan yang utama. Sekolah merupakan tempat mereka mengenyam pendidikan, mengembangkan potensi diri, dan memulai kehidupan sosialnya di luar lingkungan keluarga.

Pendidikan adalah Hak Dasar Anak

United Nations Convention on the Rights of the Child (Konvensi Hak-Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang merupakan konvensi internasional tentang hak-hak anak meliputi hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan kultural menegaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, kemampuan mental dan fisik anak hingga mencapai potensi maksimal. Selain itu, pendidikan bagi anak bertujuan untuk mengembangkan sikap menghormati hak asasi sesama, hormat kepada orang tua, serta menghormati nilai-nilai yang dianut dan identitas budaya.

Pendidikan juga merupakan cara menyiapkan anak agar bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Anak dididik dalam suasana penuh pengertian, toleransi, damai, dan dengan menjunjung asas kesetaraan gender, persahabatan tanpa memperhatikan perbedaan bangsa, suku, dan agama, serta menumbuhkan rasa hormat pada lingkungan alam. Singkat kata, pendidikan adalah cara mempersiapkan generasi penerus agar menjadi lebih baik daripada kita.

Sahabat tentu menginginkan pendidikan terbaik bagi anak agar mereka memiliki budi pekerti yang baik, bertingkah laku sopan, menghargai orang lain, lingkungan, dan tentu dengan harapan agar mereka lebih sejahtera dalam kehidupannya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pendidikan anak kini lebih terjamin dengan adanya Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak. Apa itu Sekolah Ramah Anak? Simak terus, yuk!

Sekolah Ramah Anak, Pendidikan Nyaman Bagi Anak

Sekolah Ramah Anak memiliki beberapa prinsip dasar. Prinsip-prinsip tersebut kemudian diwujudkan dalam praktek pelaksanaan pendidikan di sekolah. Berikut merupakan prinsip-prinsip dasar pelaksanaan Sekolah Ramah Anak.

  • Nondiskriminasi

    Sekolah menjadi tempat setiap anak untuk mendapatkan hak pendidikannya tanpa diskriminasi, baik diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, disabilitas, agama, suku bangsa, maupun latar belakang orang tua. Anak laki-laki dan perempuan tidak boleh mendapatkan perlakuan yang berbeda di sekolah. Mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk memilih tempat duduk yang disukai, menggunakan fasilitas di sekolah, dan mengutarakan pendapat.

    Begitu pula dengan suku bangsa dan agama. Budaya yang dimiliki masing-masing anak sesuai suku bangsanya, harus dihormati bahkan dikembangkan di sekolah. Di samping itu, pendidikan agama juga harus disediakan di sekolah sesuai kebutuhan dan kepercayaan setiap anak.

    Sekolah Ramah Anak RevB01 2

  • Anak sebagai pusat perhatian

    Sekolah mengusahakan bahwa anak merupakan fokus utama di sekolah. Artinya, setiap keputusan dan tindakan oleh pengelola dan penyelenggara pendidikan diambil dengan anak sebagai pertimbangan utama. Keputusan apapun baik itu pendanaan, pembangunan, kurikulum, dan sarana serta prasarana di sekolah, diambil dengan memperhatikan kebaikan dan kegunaannya bagi pendidikan anak serta aspek-aspek lain terkait kondisi anak seperti kondisi fisik dan psikologis.

    Misalnya terkait perhatian terhadap keselamatan anak, demi melindungi keamanan anak selama di sekolah, bangunan dan lingkungan sekolah harus dibuat kokoh dan aman bagi anak. Bangunan sekolah juga tidak boleh berada di bawah jaringan listrik tegangan tinggi (SUTET), kemiringan tangga dibuat sesuai dengan pertumbuhan fisik anak, tidak membahayakan anak dari benda-benda yang jatuh baik di dalam maupun di luar ruangan, tidak terdapat lubang sumur yang terbuka, serta terdapat pagar pengaman di tempat-tempat yang rawan.

    Di samping itu, keamanan sekolah terhadap bencana juga wajib diperhatikan. Setiap sekolah seharusnya dilengkapi dengan alat pemadam api, alarm peringatan kebakaran, bahkan alarm gempa atau badai jika memang sekolah berada di wilayah yang rawan terkena bencana alam tersebut. Dalam hal ini, sekolah juga harus mampu mengevakuasikan anak dalam keadaan darurat secara aman dari dalam bangunan ke tempat yang lebih aman.

  • Menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak di sekolah

    Sekolah Ramah anak menyediakan lingkungan yang menghormati martabat anak dan menjamin perkembangan holistik yang terintegrasi pada setiap anak. Oleh karena itu, kebijakan anti kekerasan terhadap anak juga menjadi salah satu elemen penting dari Sekolah Ramah Anak.

    Kebijakan tersebut merupakan kesepakatan bersama antara anak, guru, pegawai sekolah (termasuk satpam dan tenaga kebersihan), serta Sahabat sebagai orang tua atau wali. Sekolah harus melarang tindak kekerasan dalam bentuk perisakan (bullying), kekerasan seksual, atau hukuman badan seperti menarik telinga, menampar, memukul, mencubit, menendang, atau melempar. Bahkan hukuman yang selama ini dianggap sebagian orang sebagai tindakan wajar seperti menghukum anak untuk berdiri di pojok kelas atau lapangan sekolah saat mereka lalai mengerjakan tugas, sebenarnya tidak boleh dilakukan karena termasuk dalam kategori kekerasan terhadap anak.

    Kekerasan yang menjadi perhatian dalam hal ini bukan hanya terhadap fisik, tetapi juga psikologis anak. Sehingga semua tindakan yang merendahkan martabat anak sebagai manusia juga tidak boleh dilakukan seperti menyebut sifat-sifat negatif

  • Menghormati hak anak

    Saat berada di sekolah, anak berhak untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan aman. Untuk mewujudkan hal tersebut, Sekolah Ramah Anak harus menjadi lingkungan yang bebas asap rokok, aman dari napza, memiliki fasilitas berupa toilet yang bersih dan sehat, menyediakan kantin yang bersih dan sehat, serta terjamin keamanan lingkungannya. Untuk memfasilitasi anak dengan disabilitas, jika di suatu lokasi sekolah terdapat jalan berupa tangga, seharusnya ada jalur khusus lain yang bisa digunakan oleh anak yang menggunakan kursi roda. Begitu pula pada fasilitas lain seperti toilet, harus tersedia toilet khusus yang memungkinkan anak dengan disabilitas dapat menggunakannya dengan nyaman.

    Selain itu, sekolah harus menjadi tempat yang memfasilitasi kebutuhan anak untuk mengekspresikan dirinya. Hak anak untuk mengekspresikan dirinya diwujudkan sekolah dengan menyediakan ruang kreativitas misalnya sanggar tari, ruang musik, ruang lukis, laboratorim, perpustakaan, lapangan olah raga, serta area atau ruang bermain yang lokasi dan desainnya dilengkapi dengan perlindungan yang memadai, sehingga dapat dimanfaatkan oleh semua anak termasuk anak penyandang disabilitas.

  • Pengelolaan yang baik di Sekolah Ramah Anak

    Pengelolaan sekolah yang baik harus menjamin adanya transparansi, akuntabilitas , partisipasi, keterbukaan informasi, dan supremasi hukum. Kebijakan yang diterapkan di sekolah harus merupakan hasil kesepakatan antara anak sebagai peserta didik, guru sebagai pendidik, komponen pegawai lain di sekolah termasuk tenaga administrasi, kebersihan, keamanan (satpam), dan tenaga pendukung lain di sekolah.

    Keputusan dan kebijakan yang dibuat tersebut diumumkan secara terbuka, berikut laporan tentang perkembangan implementasi atau penerapannya seiring dengan berjalannya waktu. Informasi tersebut bisa diunggah ke website sekolah, media sosial yang dimiliki sekolah, atau berupa dokumen yang mudah diakses bagi siapapun yang membutuhkannya.

    Pengelola sekolah yang baik juga akan menjamin bahwa setiap sengketa atau persoalan hukum yang terjadi dapat diselesaikan dengan menunjung tinggi hukum yang berlaku di Indonesia.

Nah, bagaimana Sahabat? Sekolah Ramah Anak menarik bukan untuk diwujudkan?

Sumber:

  • Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak
  • Child Friendly Schools Manual oleh UNICEF

Sumber ilustrasi gambar:

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here