Rumah Ramah Anak, Kunci Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak

Pernahkah Sahabat merasa kelelahan mengejar-ngejar anak yang baru berjalan merangkak atau berjalan di rumah karena hendak menggapai benda berbahaya?

Atau pernahkah Sahabat merasa momen di kala anak menjelajah sudut rumah adalah hal yang “menegangkan”?

Sepertinya ini umum dirasakan oleh sebagian besar orangtua yang mempunyai anak kecil. Terutama anak yang sedang pada tahap eksplorasi, di mana semua objek di sekitar menjadi alat untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Tak jarang benda berbahaya seperti benda tajam dan stop kontak pun menjadi sasaran anak untuk dieksplorasi.

Namun tidak demikian yang dialami oleh Damayanti Kurnia—seorang parenting dan healing enthusiast, yang akrab dipanggil Umamy ini. Aman, tenang, damai, dan menyenangkan. Itulah kesan yang tim keselamatankeluarga.com dapatkan ketika berkesempatan berkunjung dan berbincang di kediaman Umamy di bilangan Cisaranten, Bandung pada 25 April lalu. 

Ia tampak santai saja ketika anaknya yang berusia 2 tahun bermain dan berlarian ke sana ke mari, mengambil dan memainkan berbagai peralatan di rumahnya. Anaknya diberi kebebasan mengeksplorasi rumahnya tanpa ia harus khawatir berlebihan dan mengawasi terus-menerus.  Mengapa bisa begitu?

Ternyata ia dan suaminya sudah merancang rumahnya sedemikian rupa menjadi rumah ramah anak sejak kehadiran anak pertamanya. Tak lain hal ini bertujuan agar anak bisa bebas belajar melalui proses eksplorasi di seluruh penjuru rumah, dan orangtua bisa fokus mendampingi dan mengajak anak bermain alih-alih selalu “mengawasi” yang menimbulkan ketegangan baik orangtua maupun anak. 

Lalu bagaimana rumah ramah anak versi Umamy? Berikut rangkuman hasil perbincangan kami.

Prinsip Rumah Ramah Anak

“Sebenarnya rumah kami tidak istimewa atau cantik seperti di majalah. Rumah ramah anak bukan berarti semua perabotannya harus khusus anak ukuran dan desainnya. Ketika masih di apartemen yang sangat kecilpun, kami bisa menerapkan rumah ramah anak. Tapi yang penting adalah penempatannya (posisi, ketinggian) dan material yang tidak membahayakan anak. Intinya rumah ramah anak tidak harus sempurna, tidak harus mewah, tidak harus berisi barang mahal”

Dalam penerapan rumah ramah anak ini, Umamy banyak terinspirasi dari buku-buku yang ia baca, di antaranya “Yes Your Baby is a Genius” karya Glenn Doman dan “Cara Asyik Mengurus Bayi 0-3 tahun” karya Kusuma Larasati. Rupanya konsep rumah ramah anak ini memang banyak terkait dengan proses optimalisi tumbuh kembang anak.

Kalau diamati, memang tak banyak perabot khusus anak di rumah Umamy. Sebagian besar yang digunakan anaknya sama dengan orang dewasa, hanya posisinya dibuat lebih rendah, dan atau dilengkapi pengaman. Rumah juga terasa lapang dan “breathable” karena kondisi tidak banyak barang. Maka tak perlu khawatir anak berlarian ke sana ke mari karena minim risiko terbentur. Tim keselamatankeluarga.com juga terkesima dengan kebersihan rumah yang sangat terjaga, sehingga jika ada makanan/benda di lantai yang masuk ke mulut anakpun menjadi minimal risiko dihinggapi bakteri. 

Manfaat Rumah Ramah Anak

“Daripada capek-capek melarangnya ke sana-ke mari, lebih baik beri ia ruang untuk bebas bereksplorasi dengan aman. Terlalu banyak melarang anak melakukan sesuatu justru bisa berakibat menghambat perkembangannya, membuatnya ketakutan, kurang berani mencoba, dan rasa tidak percaya diri. Rumah ramah anak tentunya akan membuat anak bebas bereksplorasi serta mendukung perkembangannya, terutama saat fase merangkak. Dengan begitu orangtua akan lebih santai demi menjaga kewarasan sebagai orangtua.”

Rasanya tak berlebihan jika rumah ramah anak ini bisa dibilang sebagai “kunci kewarasan” orangtua. Tak bisa dipungkiri jika orangtua kerap lelah dan tegang mengawasi anak dari bahaya yang ada di rumah sendiri. Kondisi ini tak jarang menimbulkan stress pada ibu, yang berujung pada sikap uring-uringan sehingga tidak optimal dalam mengasuh anak. Padahal yang dibutuhkan anak di fase bermain ini adalah orangtua yang dapat mendampingi dan bermain bersamanya.

Rapihkan kembali mainan anak setelah bermain

“Anak saya beri kepercayaan untuk melakukan berbagai hal sendiri, seperti menggantung pakaiannya, menaruh mainan pada tempatnya, mengambil dan mengembalikan perabotan makan, mencuci tangan, memasak, dan sebagainya. Semua peralatan tersebut ditaruh di tempat yang bisa ia jangkau”

Jika disimpulkan ternyata banyak manfaat dari menerapkan rumah ramah anak di antaranya:

  1. Meminimalisir risiko kecelakaan pada anak
  2. Perasaan tenang pada orangtua dalam memfasilitasi anak bermain
  3. Menghemat energi orangtua
  4. Membangun kepercayaan diri dan kemandirian anak karena diberi kepercayaan untuk melakukan berbagai hal sendiri
  5. Memberi ruang anak bereksplorasi secara maksimal untuk mendukung tumbuh kembangnya
  6. Mengurangi rasa bersalah orangtua jika terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan, karena sudah berusaha sebaik mungkin

Tips Rumah Ramah Anak ala Umamy:

  1. Minimalisir penaruhan perabot besar di lantai agar ruang gerak luas. Jika memungkinkan pilih perabot yang dapat digantung di dinding
  2. Letakan benda-benda berbahaya di luar jangkauan anak seperti di rak/lemari terkunci atau posisinya tinggi. Benda-benda berbahaya dapat berupa benda tajam, panas, mengandung bahan kimia, mudah tertelan dan pecah.
  3. Gunakan pelindung stop kontak untuk meminimalisir anak tersengat listrik, terutama jika terletak di bawah
  4. Gunakan pelindung pinggiran pada ujung perabot seperti meja/pintu yang bisa membahayakan jika terbentur
  5. Gunakan matras di area yang sering digunakan anak untuk permainan yang melibatkan motorik kasar (berlompatan, berguling, memanjat, dsb)
  6. Jaga kebersihan dan sanitasi rumah, untuk meminimalisir anak terkena bakteri
  7. Sediakan benda dan ruang cukup untuk anak bereksplorasi di “wilayahnya sendiri”, agar kebutuhannya tercukupi dan tidak bereksplorasi berlebihan di ruang yang berbahaya
  8. Terapkan prinsip “satu barang masuk, satu barang keluar” agar barang tidak menumpuk di rumah, yang menyebabkan rumah terlalu penuh dan meningkatkan resiko kecelakaan

Salah satu catatan penting dari Umamy adalah, versi rumah ramah anak setiap keluarga bisa berbeda. Barangkali ada keluarga yang punya kemampuan finansial lebih untuk memfasilitasi anaknya dengan berbagai peralatan khusus anak. Atau ada juga keluarga lain menerapkan rumah minimal perabot agar rumahnya aman. Semua tergantung pada kesanggupan orangtua baik secara finansial maupun manajemen rumah. Yang terpenting tetap memegang prinsip mengurangi risiko kecelakaan pada anak. 

Selain itu penerapan rumah ramah anak juga perlu disesuaikan dengan usia anak. Tentunya standar keamanan untuk anak usia balita dan di atas 5 tahun akan berbeda, menyesuaikan perjalanan tumbuh kembang anak.

Dengan rumah ramah anak, maka ungkapan “Beri anak kebebasan, jangan terlalu banyak melarang anak” bukan lagi sekadar wacana bukan?

Bagaimana, apakah rumah Sahabat sudah menjadi rumah yang ramah bagi anak? 

Bahan bacaan :

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here