Risiko Gempa Bumi di Dalam Rumah

Nepal Earthquake - UNDP Flickr

Sahabat, dalam hidup dan bertempat tinggal, kita perlu menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada untuk mengurangi terjadinya friksi. Hampir bisa dipastikan bahwa dimanapun kita tinggal, ada risiko bencana yang dipicu jenis bahaya tertentu, dengan tingkat yang berbeda-beda. Apabila kita sudah memastikan bahwa rumah kita berada di kawasan berisiko gempa, maka kita perlu mengajak keluarga kita untuk ‘menyesuaikan diri’ dengannya. (baca juga Panduan Praktis Menghadapi Bahaya Gempa Bumi)

Dampak yang diakibatkan getaran gempa terhadap rumah, bisa jadi berbeda dengan dampak yang diakibatkan jenis bahaya yang lain. Mari simak hal-hal apa saja yang dapat menjadi risiko bahaya gempa bumi di dalam rumah.

Konstruksi dan desain rumah

Hal paling mendasar untuk keselamatan dalam rumah ketika gempa adalah memastikan konstruksi dan desain rumah tahan terhadap gempa. Sahabat Keselamatan Keluarga dapat menyimak mengenai prinsip-prinsip dasar konstruksi dan desain rumah tahan gempa di artikel  Konsep Rumah Sederhana Tahan Gempa.

Benda apa saja di rumah yang akan terdampak getaran gempa?

Walaupun konstruksi rumah kita sudah tahan gempa, goyangan benda-benda di dalam rumah akan tetap terjadi. Dampaknya bisa beragam. Simak video berikut ini.

Mungkinkah hal tersebut terjadi di rumah kita? Mari kita telusuri beberapa benda di rumah kita sendiri yang mungkin terdampak getaran gempa dan cara sederhana mengantisipasinya.

1. Lemari

Lemari, rak, atau cabinet berfungsi menampung benda-benda seperti peralatan makan, buku, dan pajangan. Yang pertama perlu diperhatikan adalah posisinya. Apakah lemari berada di ruangan yang sering dikunjungi anggota keluarga? Apakah posisi lemari baju anak berpotensi menimpa tempat tidur apabila terjadi gempa? Apakah posisi rak buku memungkinkan untuk terjatuh dan menghalangi rute evakuasi keluar rumah?

Selain posisi, perlu dicek juga desain dan bahan lemari tersebut. Apakah berupa lemari beroda? Apakah merupakan lemari yang ringan tapi rapuh atau kuat tapi berat? Apakah lemari terbuka ataukah lemari berpintu? Apakah lemari berpintu yang mudah terbuka dengan sendirinya atau yang terkunci?

Apabila posisi maupun desain lemari tersebut sudah tidak dapat dirubah, salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mengamankan lemari adalah dengan merekatkannya ke dinding dengan menggunakan sekrup. Bila belum memungkinkan untuk melakukannya, paling tidak beri ruang antara dinding dengan lemari untuk memperkecil kemungkinan lemari untuk langsung rubuh ketika ada getaran.

2. Furniture, Pajangan, Buku, dan Perabot Lainnya

Banyak keluarga di Indonesia yang senang memajang benda pecah belah di rumah. Apalagi benda tersebut diletakkan di rak lemari paling atas yang tidak terkunci. Dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan benda tersebut bila ada gempa. Pecahannya di lantai dapat menghambat jalur evakuasi kita ke luar rumah, bahkan dapat melukai. Baik, mungkin Sahabat tidak memajang benda pecah belah di rumah. Sekarang cek, apakah kita memajang benda-benda berat di atas lemari yang terbuka, seperti Ensiklopedia atau Kamus Besar atau TV, speaker, dan microwave?

Hal termudah dan termurah untuk mengurangi risiko terluka akibat benda-benda yang ada di rumah kita sendiri adalah dengan mengatur letaknya. Pindahkan barang-barang yang berat ke bagian lemari yang paling bawah. Amankan barang pecah belah di bagian bawah lemari yang dapat dikunci, atau setidaknya tidak akan terbuka sendiri saat terjadi getaran gempa.

Hal terbaik yang dilakukan, namun tidak semua orang suka adalah, mengurangi benda-benda yang ‘tidak penting’ atau ‘kurang bermanfaat’ di rumah, atau yang akhir-akhir ini menjadi trend, yaitu metode decluttering-nya Mari Kondo. Lebih sedikit benda, lebih mudah untuk mengaturnya, dan lebih kecil risiko terluka karena gempa.

3. Pintu dan Jendela

Pintu merupakan akses ketika evakuasi apabila kita berada di dalam rumah saat gempa. Untuk mempermudah proses evakuasi, arah bukaan pintu sebaiknya dibuat kearah luar, bukan ke dalam. Hal ini juga dapat mengurangi kepanikan bila jumlah penghuni yang hendak keluar rumah cukup besar, atau bila ada tumpukan benda dibalik pintu.

Pastikan bahwa jalur evakuasi dari setiap ruangan menuju pintu keluar terbebas dari kemungkinan berjatuhannya lemari atau benda-benda lainnya.

Sebagian keluarga memilih untuk mencabut kunci pintu di malam hari untuk keamanan. Dalam kondisi seperti itu, pastikan kunci pintu dapat diakses dengan mudah dan seluruh anggota keluarga mengetahui dimana letak kunci pintu. Dalam kasus pintu yang terkunci akibat getaran gempa, jendela berukuran besar dapat menjadi alternatif akses keluar, dengan catatan aman dari pecahan kaca setelah gempa.

Opsi mengamankan pecahnya kaca jendela adalah menggunakan lapisan pengaman kaca.

Gempa bumi di dalam rumah 1
Kenali potensi bahaya di rumah saat gempa – jpninfo.com

4. Benda di Bagian Luar Rumah

Berada di luar rumah ketika gempa bukan berarti kita boleh tidak waspada. Genteng merupakan salah satu bagian dari konstruksi rumah yang cenderung tidak melekat dengan tubuh utama rumah. Oleh karena itu, ada kemungkinan atap genteng berjatuhan akibat gempa. Sehingga walaupun kita sedang berada di luar rumah, bahaya jatuhnya genteng tetap harus diwaspadai. Begitu pula dengan benda-benda lain yang ada di luar rumah, seperti papan pengumuman dan tiang listrik. Pastikan jalur evakuasi terbebas dari risiko berjatuhannya benda-benda tersebut.

5. Jaringan Listrik, Gas, Air dan Komunikasi

Tidak hanya benda-benda yang ada di luar saja, infrastruktur yang ada di rumah juga bisa dipengaruhi oleh getaran gempa. Aliran listrik dan gas sangat berbahaya ketika gempa karena dapat menimbulkan kebakaran, bahkan ledakan. Hal sederhana untuk mengantisipasinya adalah dengan memastikan kualitas pipa gas terjaga serta terpasang pipa yang lebih fleksibel, agar terhindar dari kebocoran gas. Membersihkan, merapikan, dan memperbarui kabel listrik juga dapat meminimalkan risiko kebakaran. Kabel listrik yang tidak dipakai sebaiknya dicabut saja. Sahabat KKC juga dapat membeli APAR (Alat Pemadam Api Ringan) bila dirasa perlu.

Gempa juga dapat memutus jaringan komunikasi, listrik, dan saluran air minum kota. Disinilah pentingnya kita melakukan kesepakatan dengan anggota keluarga dan komunitas sebelum ada bencana, serta menyiapkan Tas Siaga Bencana, yang di dalamnya terdapat keperluan air minum paling tidak untuk tiga hari, senter, dan radio.

Potensi bahaya di rumah saat gempa bumi – http://survival-mastery.com/

Mungkin masih banyak jenis benda lain di rumah dan sekitarnya yang berpotensi terdampak gempa, yang belum tercakup dalam artikel ini. Latihlah kesadaran Sahabat terhadap potensi bahaya di rumah saat terjadi gempa bumi. Silakan telusuri sendiri apa saja benda yang mungkin jatuh dan melukai penghuni rumah serta cari tahu bagaimana mengamankannya dari goyangan. Apa yang Sahabat lakukan sekarang mungkin akan menyelamatkan keluarga di masa depan.

Sahabat KKC dapat mengikuti langkah-langkah kesiapsiagaan keluarga dari artikel ini, dengan memperhatikan hal-hal khusus konteks risiko gempa berikut:


Selanjutnya : Panduan Praktis Menghadapi Bahaya Gempa Bumi


Referensi tambahan untuk mengamankan benda-benda dalam rumah sebelum gempa:

http://resilience.abag.ca.gov/preparedness/contents/

http://www.earthquakecountry.org/step1/index.html

Ilustrasi : Nepal Earthquake by UNDP

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here