Likuifaksi, Mengenal, Mengetahui Penyebab, dan Dampak Likuifaksi

Niigata Likuifaksi

Sahabat, mungkin akhir-akhir ini sering mendengar istilah likuifaksi, terutama setelah gempa di Palu bulan September 2018 lalu. Pada tulisan sebelumnya, mengenai Gempa Bumi, sempat disinggung potensi bahaya susulan akibat gempa, salah satunya adalah likuifaksi. Sebenarnya apa itu likuifaksi? Apa penyebabnya? Serta apa dampaknya terhadap kehidupan sehari? Mari kita simak ulasan singkat mengenai likuifaksi.

Pengertian likuifaksi atau pencairan tanah adalah hilangnya kekuatan dan kekakuan tanah jenuh air akibat adanya perubahan tegangan pada tanah. Akibat dari hilangnya kekuatan tanah ini dapat berupa longsor, perubahan tekstur tanah menjadi lumpur, atau penurunan atau pergerakan tanah secara tiba-tiba. Likuifaksi hampir sebagian besar terjadi pada tanah jenis pasir, terutama jenis pasir lepas. Dampak likuifaksi ini dapat kita lihat dengan istilah “tenggelam” nya pemukiman warga di Petobo, Sulawesi Tengah.

KONSEP TANAH

Perlu kita ketahui bersama, bahwa komponen tanah yang kita jadikan tempat berpijak dan mendirikan bangunan, terdiri dari 3 unsur, yaitu partikel tanah, air, dan udara. Setiap jenis tanah memiliki komposisi partikel tanah, air, dan udara yang berbeda. Pernah mendengar istilah tanah padat atau tanah lepas? Istilah tanah padat itu adalah kata lain dari komposisi partikel tanah yang jauh lebih besar dari air dan udara nya. Istilah tanah lepas adalah kata lain dari komposisi partikel tanah tidak jauh berbeda dengan air dan udara. Itulah pada umumnya mengapa istilah tanah dipadatkan dilakukan dengan cara menggilas atau menekan tanah, supaya air dan udara keluar dari tanah, sehingga yang tersisa hanyalah murni partikel tanah saja.

Likuifaksi 2
Likuifaksi 2 Principles of Geotechnical Engineering 7th Edition, Braja M. Das

Sederhananya, tanah dibagi menjadi 2 jenis, yaitu tanah berbutir halus (lempung/liat/clay) dan tanah berbutir kasar (pasir/sand). Tanah lempung adalah mineral mikroskopik yang memiliki ikatan kimia berupa kohesi diantara partikel-partikelnya, sedangkan tanah pasir merupakan butiran-butiran hasil kikisan batuan beku atau sedimen. Berbeda dengan tanah lempung, tanah pasir umumnya tidak memiliki kandungan mineral yang memiliki kohesi, sehingga berbentuk butiran-butiran yang relatif besar.

Dalam hubungannya dengan kekuatan tanah, jenis tanah lempung mengandalkan kohesi sebagai parameter kekuatan nya, sedangkan tanah pasir mengandalkan bidang kontak antara butiran-butiran pasir, atau ilmiahnya dikenal dengan sudut geser tanah.

Semakin kecil jarak butiran-butiran tanah pada tanah lempung, maka akan semakin besar kohesi, karena jarak antar partikel berbanding terbalik dengan kohesi. Begitu pula dengan tanah pasir, semakin kecil jarak butiran-butiran tanah, maka akan memperbesar bidang kontak antara partikel-partikel tanah. Cara kita memperkecil jarak butiran tanah adalah dengan memadatkan tanah, dengan cara dikompres/ditekan, atau dengan cara diberi getaran (khusus tanah pasir).

Likuifaksi 3

PENYEBAB LIKUIFAKSI

Setelah kita mengenal konsep tanah, kita beralih pada pertanyaan, mengapa bisa terjadi likuifaksi? Telah disinggung sebelumnya bahwa likuifaksi pada umumnya terjadi pada tanah pasir lepas yang jenuh air. Setidaknya ada 4 hal yang menjadi syarat terjadi likuifaksi, yaitu :

  1. Tanah pasir dengan kepadatan rendah (tanah pasir lepas)
  2. Bentuk butiran tanah/pasir yang seragam
  3. Jenuh air (muka air tinggi)
  4. Gempa (umumnya dengan skala > 6)

Adalah benar, gempa menjadi pemicu terjadinya likuifaksi. Saat terjadi gempa, bumi bergetar, dan saat daerah dengan jenis pasir lepas dan jenuh air mengalami getaran, air yang mengisi pori-pori antar partikel pasir akan berusaha menekan ke segala arah (tegangan air pori meningkat) dan mendorong partikel-partikel pasir menjadi lebih renggang sehingga gaya kontak antara partikel-partikel pasir menjadi hilang. Hal inilah yang akan kita lihat sebagai pencairan tanah / likuifaksi.

Likuifaksi 1
Likuifaksi 1 https://www.swri.org/technology-today/liquefaction-consortium-earthquake-models

DAMPAK LIKUIFAKSI

Karena fenomena likuifaksi ini berhubungan dengan kegagalan tanah, maka dampak yang dapat ditimbulkan dari likuifkasi adalah hancur, atau rusaknya bangunan yang ada diatas tanah yang mengalami likuifaksi. Lebih luas, likuifaksi dapat “menenggelamkan” dan “mengubur” satu kawasan seperti yang terjadi di Petobo, Sulawesi Tengah.


Likuifaksi sebetulnya bukan sebuah barang baru, tahun 1964 gempa bumi berkekuatan skala 7.6 mengguncang prefektur Niigata, Jepang. Sebagian besar bagian kota Niigata terdampak likuifaksi, lebih dari 3000 rumah rusak, 11.000 lebih dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa bumi, likuifaksi, dan tsunami yang terjadi saat itu. Gempa Padang, 30 September 2009 lalu, juga mencatat kejadian likuifaksi yang menyebabkan beberapa bangunan bertingkat amblas, masuk kedalam tanah.

Beberapa syarat terjadinya likuifaksi adalah pasir lepas dan jenuh air, hal itu yang menyebabkan sebagian besar kejadian likuifaksi terjadi di dataran rendah dekat aliran air, seperti sungai, danau, dan laut. Karena daerah perairan tersebut banyak mengandung tanah-tanah deposit dengan kekuatan rendah dan lepas, serta diiringi muka air tanah yang tinggi.

Apakah likuifaksi dapat diprediksi? Jawabannya bisa. Sama seperti gempa, potensi likuifaksi dapat diprediksi probabilitasnya, namun tidak dapat diprediksi kapan dan bagaimana kejadian itu berlangsung. Studi likuifaksi umumnya dilakukan di sebuah kawasan dengan menilai parameter tanah, berupa kekuatan tanah, jenis tanah, gradasi tanah, tinggi muka air, kerawanan terhadap gempa, dan lain-lain.

Sayangnya hingga saat ini Indonesia belum memiliki peta potensi likuifaksi di Indonesia. Studi-studi mengenai potensi bencana di Indonesia sudah banyak dilakukan berbagai institusi di Indonesia, namun sepertinya belum ada yang mengolaborasikan studi-studi tersebut menjadi pemetaan yang dapat dengan mudah dipahami orang banyak.

Seperti tahun 2012 lalu, Badan Geologi ESDM pernah melakukan studi potensi likuifaksi di daerah Palu, dan menghasilkan kesimpulan bahwa sebagian besar kawasan ibukota Palu memiliki potensi tinggi terhadap fenomena likuifaksi, termasuk kawasan Petobo, yang dekat dengan bandara SIS Al-Jufrie, kota Palu.

Sebetulnya dengan adanya pemetaan potensi bencana seperti peta gempa Indonesia, kita dapat menilai dan mengukur potensi kerugian yang akan timbul jika terjadi bencana di Indonesia. Sekaligus kita dapat mempersiapkan diri jika terjadi bencana di daerah tersebut, sehingga kerugian secara fisik dan jiwa dapat diminimalisir.

Semoga studi-studi ilmiah tentang bencana di Indonesia dapat dikolaborasikan dengan apik, sehingga menghasilkan informasi valid yang terukur untuk membantu masyarakat Indonesia siap untuk mengadapi bencana. Diharapkan dengan adanya informasi yang valid dan terukur, masyarakat Indonesia dapat meningkatkan kesiapsiagaan nya terhadap berbagai potensi bencana.

Bencana tidak dapat kita prediksi kapan terjadinya, dan juga tidak dapat kita hindari, akan tetapi sangat disarankan kita selalu siapsiaga dalam menghadapi kemungkinan bencana di tempat kita tinggal. Tetap sehat dan selamat, Sahabat.

Baca juga :


Sumber :

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here