Pengaruh Konsumsi Tayangan Televisi Pada Anak

Tayangan Televisi Cover

Apakah Sahabat memiliki televisi di rumah? Saya yakin, lebih dari 90% dari Sahabat akan menjawab “punya”. Bagaimana tidak, kotak ajaib ini memanjakan kita dengan cara cukup dengan menekan tombol dan duduk manis, lalu kita dapat menikmati berbagai tayangan televisi yang menarik tanpa harus keluar rumah. Semenjak penemuan televisi rumah di tahun 1930, benda ini menjadi salah satu primadona teknologi. Indonesia sendiri, televisi baru diperkenalkan pada tahun 1962. Saat itu stasiun televisi dikelola oleh TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi yang diizinkan mengudara oleh pemerintah. Baru pada tahun 1989, RCTI lahir sebagai stasiun televisi swasta pertama di Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri peran televisi saat ini semakin besar dan perannya sebagai media komunikasi visual sangat luar biasa dibandingkan media-masa yang lain. Televisi mampu mengkomunikasikan pesan-pesannya dengan cara yang sangat sederhana lewat pancaran sinar yang dibentuk oleh garis-garis tabung elektronik dan bersifat sepintas atau transitory. Maka pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dalam sekilas dan dengan jenjang konsentrasi yang tidak setinggi seperti membaca.

Dengan intensitas penyiarannya yang sangat tinggi, televisi memberi pengaruh besar pada masyarakat Indonesia secara sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sektor lain kehidupan masyarakat. Saking besar pengaruhnya pada masyarakat, disebut-sebut bahwa dampak penemuan televisi menyamai penemuan bola lampu oleh Thomas Alfa Edison, di mana keduanya mempengaruhi peradaban dunia.

Pengaruh ini menyentuh berbagai kalangan sosial ekonomi maupun rentang usia. Tak heran, saat ini orangtua yang menyadari dampak negatifnya mulai cemas terhadap perkembangan anak-anaknya karena tontonan televisi. Disadari atau tidak, beberapa perubahan sikap pada anak seringkali disebabkan oleh tontonan televisi yang menjadi konsumsinya sehari-hari.

Lalu, apa saja dampak negatif dan positif dari konsumsi tayangan televisi pada anak..?? Berikut ini Penulis mencoba merangkum beberapa hasil penelitian mengenai dampak televisi terhadap anak.

Dampak Positif

Dampak positif dari konsumsi tayangan televisi pada anak adalah sebagai berikut :

Menambah wawasan sebagai pendukung media pendidikan

Jika kita cermat memilih tontonan televisi, banyak juga tontonan yang bermanfaat bagi anak. Tontonan tersebut dapat menambah wawasan, memberi contoh yang positif, dan menghidupkan imajinasi serta memunculkan inspirasi. Tontonan anak biasanya mempunyai nilai lebih jika bersifat interaktif dengan anak, misalnya dengan mengajukan pertanyaan, mengajak anak bergerak, atau memberi instruksi tertentu pada anak. Tapi tetap, tayangan televisi, sifatnya sebagai pendukung media pembelajaran, bukan sebagai referensi utama pendidikan anak. Peran utama tetap ada pada orang tua, media literasi, benda fisik, serta lingkungan sosialnya.

Menambah kekayaan kosakata dan berbahasa anak

Anak pada dasarnya sangat mudah menyerap bahasa dari lingkungannya. Jika Sahabat telah memilihkan tontonan yang tepat bagi anak, serta mengandung unsur dialog yang baik, hal tersebut dapat diserap anak sehingga menambah kekayaan kosakata dan struktur bahasanya.

Sebagai sarana hiburan anak

Tontonan khusus anak juga seringkali menjadi sarana hiburan bagi anak. Aneka gambar, adegan, dan dialog lucu dapat membuat anak tertawa dan merasa terhibur. Jika anak terus ceria maka hal ini tentunya juga menjaga kesehatan psikologisnya.

Dampak Negatif

Disamping dampak positif, konsumsi tayangan televisi pada anak juga memiliki beberapa dampak negatif, diantaranya adalah sebagai berikut :

Menjadikan anak pasif secara fisik dan mental

Menonton televisi merupakan kegiatan yang cenderung pasif, karena anak cukup duduk manis untuk menikmatinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa terlalu banyak menonton televisi dapat mencuri waktu anak untuk beraktivitas yang  mengembangkan otaknya seperti bertinteraksi sosial dan bermain. Berkurangnya waktu anak untuk berinteraksi sosial dan bermain dapat menghambat kemampuan anak dalam bersosialisasi, perkembangan motorik, berbahasa, dan kreativitas.

Kegiatan pasif seperti menonton televisi membuat anak kurang aktif bergerak seperti mencari, berlari, dan melompat. Akibatnya otot-ototnya kurang terlatih, serta motoriknya pun kurang berkembang. Tidak hanya itu, secara mental, anak pun sekadar menyerap dari apa yang ditonton dari televisi. Akibatnya kesempatannya untuk berlatih berpikir kreatif, memecahkan persoalan, dan bertanya pun akan berkurang.

Cara belajar anak yang paling efektif adalah berinteraksi langsung dengan media belajarnya, seperti manusia dan benda-benda, dibandingkan melalui layar. Diibaratkan bahwa otak anak kecil berada di sekujur tubuhnya; melalui sensasi lihat, dengar, cium, kecap, dan sentuh anak mendapat informasi baru yang kelak membentuk jalinan informasi raksasa pada otaknya. Untuk itu cara belajar pada jenjang usia dini adalah dengan sebanyak-banyaknya bermain, melakukan kegiatan eksplorasi, dan obrolan sederhana dengan orang sekitarnya.

Membuat jarak antara anak dengan buku dan bacaan lainnya:

Jika anak sudah tahu asyik dan mudahnya menonton televisi, jangan heran jika anak menjadi malas membaca, karena kegiatan tersebut memerlukan usaha lebih untuk melakukannya. Hal ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan Comstock pada tahun 1991,  yang menyatakan bahwa kegiatan menonton televisi mengurangi waktu anak untuk melatih dan meningkatkan keterampilan membaca. Selain itu menurut Macbeth (1996), anak pada usia taman kanak-kanak yang menonton acara hiburan dan kartun mempunyai keterampilan membaca yang lebih rendah. Anak-anak yang menonton acara hiburan juga mempunyai minat membaca media cetak lebih rendah dibandingkan anak yang tidak menontonnya (Wright, Huston 1995).

Masalah pada kemampuan fokus

Fokus anak Sahabat mudah teralih? Cobalah mengevaluasi berapa lama anak Sahabat berada di depan televisi dan seberapa bising rumah Sahabat oleh suara televisi. Menurut Dr. Sally Ward anak yang tumbuh di rumah yang bising dengan latar suara televisi mempunyai masalah dalam memfokuskan perhatian pada suara yang mempunyai latar suara yang lain. Selain itu anak yang terlalu banyak menonton mempunyai rentang fokus yang pendek akibat terbiasa menyerap informasi melalui stimulus visual dibandingan mendengar.

Menurunkan performa akademis

Pernah mengalami kesulitan mengajak anak mengerjakan PR karena keasyikan menonton televisi? Rasanya masalah itu menjadi masalah banyak orangtua masa kini. Penelitian pun membuktikan, anak yang terlalu banyak menonton televisi menjadi tidak optimal dan kurang berminat dalam mengerjakan PR karena kelelahan menonton televisi. Apalagi jika anak menonton televisi larut malam hingga tertidur, hal tersebut membuat anak kurang bugar ketika di sekolah dalam menyerap pelajaran.

Contoh negatif dalam bersikap

Jika kita menemukan anak-anak kita tiba-tiba memunculkan sikap atau kata-kata yang baru, padahal setahu kita tidak ada yang mencontohkan di keluarga ataupun lingkungan kita, biasanya tontonan televisi akan menjadi tersangka utamanya. Anak merupakan peniru yang paling baik. Jika ada hal yang menurutnya lucu, keren, atau dilihatnya berulang kali, bersiaplah hal tersebut akan melekat pada diri anak. Lebih jauh, berdasarkan beberapa penelitian, tontonan televisi yang tidak tepat pada anak juga dapat memunculkan sikap agresif dan perilaku bully pada teman. Jangan sampai usaha keras kita dalam mendidik anak akan percuma akibat kontaminasi konsumsi tontonan yang tidak sesuai pada anak kita.

Menurunkan kesehatan

International Journal of Cardiology mengungkapkan bahwa anak usia 2-10 tahun yang menonton televisi lebih dari 2 jam setiap harinya, berisiko 30% lebih tinggi pada gangguan tekanan darah. Lebih lanjut, hal ini juga terkait pada resiko gangguan pada jantung. Penelitian di University of Sydney juga menyebutkan bahwa terlalu banyak menonton dapat mempersempit arteri pada retina mata.

Meningkatkan gaya hidup konsumtif

Suka merasa kaget dengan keinginan anak untuk membeli aneka panganan atau mainan yang tiba-tiba dan beraneka macam?Bisa jadi hal itu disebabkan iklan yang ditontonnya di televisi. Bombardir aneka produk di televisi memang mengerikan. Tidak jarang sesuatu yang awalnya tidak butuh menjadi merasa butuh karena tergiur oleh iklan. Akibatnya anak menjadi terdorong untuk bersikap konsumtif atas hal yang sebenarnya tidak dibutuhkannya atau bahkan belum tentu baik bagi dirinya. Suatu penelitian bahkan menyebutkan bahwa banyak menonton televisi dapat menimbulkan resiko obesitas pada anak. Hal ini tak lain karena anak kurang banyak beraktivitas fisik dan menonton sambil mengemil aneka jajanan yang ia inginkan dari iklan.

Demikian Sahabat, beberapa dampak positif dan negatif dari konsumsi tayangan televisi pada anak. Seperti mata pisau, televisi pun merupakan sebuah alat bantu. Baik buruknya akan tergantung kepada kita sebagai penggunanya. Sahabat harus dapat menentukan material apa saja yang menjadi bahan konsumsi keluarga, supaya tercipta lingkungan keluarga yang kondusif dan nyaman bagi semua anggota keluarga, terutama pada anak sebagai penerus Kita nantinya.

Baca Juga : Bagaimana cara terbaik mendampingi anak dalam menonton televisi

Mari bijaklah dalam memilih material tontonan untuk keluarga.


Referensi:

http://www.raisesmartkid.com/all-ages/1-articles/13-the-good-and-bad-effects-of-tv-on-your-kid

Diana M. Zuckerman, Barry S. Zuckerman. 1983. Television’s Impact on Children. http://pediatrics.aappublications.org/content/75/2/233

Elana Pearl Ben-Joseph, MD. 2016. http://kidshealth.org/en/parents/tv-affects-child.html#

http://www.raisesmartkid.com/all-ages/1-articles/12-tips-on-kids-and-tv-watching

Nancy W. Dickey, M.D
http://www.med.umich.edu/yourchild/topics/managetv.htm

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here