Menghindari Bahaya Penculikan Anak di Sekolah

https://www.flickr.com/photos/benzies/4525186993/
Jangan lengah mengawasi anak - Ilustrasi Ben Houdijk (Flickr)

Bagi Sahabat yang sudah memiliki anak usia sekolah, salah satu hal penting terkait dengan keselamatan keluarga, adalah bahaya penculikan anak di sekolah. Akhir-akhir ini mungkin Sahabat pernah mendapatkan berita atau broadcast messages yang mengabarkan bahwa banyak terjadi kasus penculikan anak. Kebanyakan broadcast messages menginformasikan beberapa modus penculikan anak, misalnya untuk dijual kembali, diambil organ-organ dalamnya, dimintai tebusan, dan lain sebagainya. Terlepas berita tersebut benar atau hoax, yang memang sedang merajalela di jejaring sosial, ada baiknya Kita selalu waspada dan menjaga anak-anak dan keluarga Kita supaya tidak mengalami kejadian tersebut.

Sahabat sebagai orangtua memiliki peran yang paling vital untuk mencegah penculikan anak terjadi pada anak-anak. Dalam hal ini, selain memberikan dampingan penjagaan yang efektif secara langsung, Sahabat juga perlu membekali anak dengan kemampuan untuk dapat menjaga dirinya sendiri. Berikut adalah ulasan mengenai hal-hal seputar penculikan dan cara pencegahannya.

Motif dan modus tindakan penculikan

Terdapat beragam penyebab tindakan penculikan, di antaranya adalah faktor ekonomi, penyakit psikis (penyimpangan perilaku), permasalahan rumah tangga/keluarga, dan lain sebagainya. Namun, menurut The Indonesian Institute (2010), sejauh ini motivasi tertinggi dari kasus penculikan anak adalah faktor ekonomi yang dilakukan dalam bentuk permintaan uang tebusan atau sindikasi perdagangan anak. Kemudian, beberapa modus operandi dalam kasus penculikan yang berkaitan dengan aktifitas sekolah adalah:

  1. Menjemput anak di sekolah dengan berpura-pura sebagai saudara atau driver online.
  2. Menghampiri anak di tempat umum saat pergi atau pulang sekolah, kemudian melakukan tipu daya seperti menawarkan tumpangan, menawarkan makanan (permen, coklat, dsb), menawarkan uang, bertanya sesuatu, meminta pertolongan, memperlihatkan binatang peliharaan, dan sebagainya. (www.missingkids.com)
  3. Membuka pertemanan di media sosial dan mengajak bertemu di suatu tempat, baik di dalam maupun di luar jam sekolah.

Upaya yang bisa dilakukan

Untuk mencegah tindakan penculikan anak, Sahabat dapat mempertimbangkan untuk mengupayakannya secara menyeluruh dari tiga sisi yang saling berkaitan, yakni orangtua, anak, dan sekolah. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan hal tersebut.


Orangtua

  • Lakukan antar jemput dan latih kemandirian secara bertahap

Antar jemput ke sekolah setidaknya perlu dilakukan hingga usia anak mencapai SD kecil (kelas 3). Pada saat SD besar, secara bertahap anak sudah mulai dapat bepergian ke sekolah sendiri jika lokasi sekolah berada dekat dengan rumah atau mudah dijangkau dengan angkutan umum (sekali naik kendaraan). Menginjak usia SMP, anak seharusnya sudah dapat berangkat dan pulang sekolah sendiri untuk mengasah kemampuannya bepergian secara mandiri. Hal ini dilakukan dengan catatan bahwa orangtua sudah membekali anak kemampuan untuk dapat menjaga keselamatan dirinya sendiri.

  • Pelajari rute jalan, tempat rawan, dan tempat meminta bantuan

Antar anak secara langsung untuk melalui rute umum yang akan ditempuh saat pergi dan pulang sekolah, lalu tunjukkan tempat-tempat rawan yang harus dihindari dan tempat-tempat aman di mana mereka bisa meminta pertolongan

  • Rajin berkomunikasi pada saat berangkat dan pulang sekolah

Ajak anak untuk selalu terhubung dengan rumah saat berangkat dan pulang sekolah. Rajin berkomunikasi bukan berarti harus menghubungi setiap waktu atau mewajibkan anak untuk melapor sesering mungkin ke rumah, namun bisa dilakukan dengan mengabari rumah jika sudah sampai di sekolah, hendak pulang, atau hendak mampir ke tempat lain sepulang sekolah.

  • Berikan pemahaman tetang modus penculikan

Berikan pemahaman kepada anak tentang modus dan potensi penculikan ketika melakukan perjalanan pergi atau pulang sekolah. Waspadai orang asing yang mengaku sebagai penjemputnya atau yang tiba-tiba menghampirinya di tempat umum untuk mengantarnya pulang, di samping juga memintanya untuk tidak menemui orang asing yang ia kenal di media sosial.

  • Simulasikan tindakan meminta bantuan

Ajak anak untuk mensimulasikan respon yang harus dilakukan ketika ada orang asing atau orang mencurigakan yang tiba-tiba menghampiri dan mengajaknya untuk pergi bersama. Anak bisa mensimulasikan untuk mewaspadai orang asing dan mencoba menolak ajakannya lalu meminta bantuan kepada orang lain, petugas keamanan, atau segera menghubungi orang rumah dalam kondisi darurat.

  • Tidak mem-posting data pribadi di media sosial

Salah satu akses informasi bagi para penculik berasal dari dunia internet, maka hindari untuk meninggalkan “jejak online” mengenai data diri dan keluarga. (Untuk lebih jelasnya, simak ulasan mengenai hal ini dalam artikel berikut: Bahaya Memposting Informasi Anak di Media Sosial)

  • Manfaatkan teknologi untuk mengetahui keberadaan anak
Salah satu perangkat pelacak anak berbentuk jam tangan

Salah satu metode yang mulai berkembang adalah dengan memantau keberadaan anak menggunakan gadget / perangkat elektronik yang dilengkapi dengan GPS. Dengan metode ini, Sahabat bisa memantau keberadaan anak secara realtime karena gadget yang dibawa anak akan mengirimkan informasi lokasi ke smartphone/komputer Sahabat.

Sahabat bisa melengkapi anak dengan smartphone yang mendukung pelacakan lokasi seperti IPhone dengan fitur find my family-nya. Pengguna Android juga bisa menggunakan berbagai aplikasi third party untuk menikmati layanan ini. Jika terasa mahal dan malah memancing tindak kejahatan, Sahabat juga dapat menggunakan jam pelacak anak seperti Bipbib atau CleverWatch yang memiliki tampilan lebih sederhana.


Anak

  • Tidak menggunakan barang mencolok

Ajak anak untuk menghindari pergi atau pulang ke sekolah seorang diri dengan memakai aksesori atau perhiasan yang berlebihan. Juga ajak mereka menghindari menggunakan gadget di kendaraan atau tempat umum yang dapat memancing perhatian orang lain.

  • Tidak menggunakan label nama

Terlebih untuk anak yang masih berusia dini, hindari penggunaan aksesori dan pakaian yang menggunakan label namanya sendiri. Hal ini akan mengundang orang asing yang memiliki niat jahat untuk mendekat dan membuka interaksi seakan-akan sebagai orang yang sudah mengenalinya. Atau jika memang label nama tersebut tersemat permanen di seragam sekolah, Sahabat dapat mengantisipasinya dengan mengenakan jaket, rompi, atau alat lainnya, sehingga nama anak kita tersamarkan.

  • Menghafal nomor kontak dan alamat rumah
penculikan anak
Sumber: https://www.flickr.com

Saat ini semakin jarang anak yang dapat menghafal nomor kontak orangtua atau keluarga dekatnya, bahkan juga mengetahui alamat lengkap rumahnya. Maka, minta anak untuk menghafal nomor kontak dan alamat rumah serta ajari bagaimana cara menggunakannya dalam kondisi darurat. Seperti meminta tolong untuk ikut menelepon kepada petugas keamanan atau langsung meminta antar kepada supir taksi.


Sekolah

  • Perkuat keamanan data peserta didik

Informasi pribadi anak, seperti nama, tanggal lahir dan data orang tua sangat rentan untuk disalahgunakan untuk tindak kejahatan seperti penculikan. Data peserta didik harus tersimpan di tempat yang aman agar terhindar dari kemungkinan pencurian baik secara fisik maupun secara online melalui jaringan internet.

  • Pasang perangkat keamanan

Selain keberadaan petugas keamanan sekolah, lingkungan sekolah juga perlu dilengkapi dengan perangkat keamanan seperti CCTV, alarm dan autogate dan lainnya. Keberadaan perangkat keamanan dapat membuat penjahat mengurungkan niatnya untuk beraksi di lingkungan sekolah. Selain itu perangkat keamanan seperti CCTV juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses investigasi tindak kejahatan seperti penculikan.

  • Bangun kerjasama yang efektif antara rumah dan sekolah

Langkah terakhir untuk menjaga anak dari potensi penculikan di sekolah adalah dengan membangun kerjasama dengan pihak sekolah. Bagi anak berusia dini yang masih harus diantar jemput oleh pihak rumah, minta pihak sekolah untuk ikut memastikan anak tidak dijemput oleh orang asing. Orangtua juga dapat menghubugi pihak sekolah jika anak akan dijemput terlambat atau akan dijemput oleh orang baru yang bukan biasa menjemputnya. Sedangkan untuk anak remaja yang sudah bisa pulang secara mandiri, sekolah bisa memintanya untuk segera pulang jika tidak ada keperluan tertentu yang mengharuskan anak berlama-lama berada di sekolah hingga larut sore.


Tingkat pendampingan anak tentu berbeda-beda sesuai dengan rentang usianya. Semakin kecil usia anak, semakin tinggi tingkat pendampingan orangtua untuk menjaganya secara langsung. Namun, semakin besar usia anak, semakin rendah tingkat pendampingan langsung dengan memberikan ruang baginya untuk dapat mengasah kemampuan menjaga dirinya sendiri. Jika sahabat sudah mengusahakan tindakan-tindakan pencegahan ini, dan tentunya melengkapinya dengan doa yang baik, maka cobalah untuk selalu berpikir positif jika anak sedang berada di luar jangkauan kita. Hindari kekhawatiran berlebih yang berujung pada upaya protektif yang malah menghambat kemampuan anak untuk dapat menjaga dirinya secara mandiri. Semoga keluarga Sahabat tetap berada dalam kondisi yang baik dan terhindar dari segala macam bahaya.


Sumber:

The Indonesian Institue, Jurnal Update Indonesia. Volume IV, No. 9 – Februari 2010.

http://www.missingkids.com

Ilustrasi Japan lr_-2-2 by Ben Houdijk / CC

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here