Mewaspadai Paparan Negatif Dari Media Untuk Anak

https://pixabay.com/en/kids-playing-connected-childhood-1253096/
Anak dan gadget

Perkembangan teknologi informasi saat ini membuat arus informasi menjadi semakin cepat dan berlimpah. Namun tidak semua informasi tersebut bersifat positif dan berdampak baik untuk keluarga kita. Ada banyak juga informasi yang bersifat negatif (artifisial atau berdampak buruk). Informasi-informasi negatif tersebut kemudian akan menjadi paparan negatif bagi setiap orang yang belum memiliki kemampuan untuk bisa memilah, memilih, dan mengolah informasi. Di antaranya adalah anak-anak kita yang sedang berada dalam tahap belajar untuk dapat membangun kemampuan tersebut. Paparan negatif dari media ini perlu kita waspadai bersama dalam menjaga tumbuh kembang anak.

Media dan Paparan Negatif

Media dalam ilmu komunikasi adalah sarana pengantar informasi dari pembuat pesan (komunikator) kepada penerima pesan, sedangkan paparan dalam konteks ini adalah penyebaran sesuatu yang dapat memberikan dampak tertentu bagi penerimanya. Dalam hal ini, media sebagai alat penyebar informasi dapat memberikan paparan positif yang terkait dengan nilai-nilai edukasi seperti etika, toleransi, rasa cinta terhadap sesama dan lingkungan, kepedulian, dan sebagainya. Namun, di samping itu media juga dapat memberikan paparan negatif seperti kekerasan, pornografi, rasisme, ujaran kebencian, dan lain sebagainya.

“terdapat hubungan yang paralel antara paparan negatif dari media dan perilaku negatif pada anak”

Terkait dengan hal tersebut, banyak penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang paralel antara paparan negatif dari media dan perilaku negatif pada anak. (Lihat misalnya kumpulan hasil penelitian dalam situs berikut: http://frankwbaker.com/mlc/effect-of-media-exposure-on-child-health/). Sederhananya, cara manusia berkembang pada masa anak-anak adalah dengan mencerap dan meniru. Mengingat pada usia tersebut kemampuan anak untuk mempertimbangkan segala sesuatu belum terbangun dengan baik, maka setiap paparan negatif akan berpotensi juga membentuk perilaku yang negatif pada diri mereka.

Jenis-jenis Media

Media dapat dikelompokkan ke dalam jenis media audio, visual, dan audio visual baik berbasis offline maupun online (menggunakan internet). Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Jenis Bentuk Alat
Audio Siaran Radio, Lagu, podcast Radio, Tape, Pemutar Lagu digital
Visual Tulisan, gambar Buku, Koran, Majalah, Komputer
Audio Visual Video Game, Video, Film Komputer, Mesin Permainan (semacam Play Station), TV

Media Audio

Radio masih menjadi media yang populer di masyarakat. Selain di rumah, radio biasa diputar di tempat umum atau biasanya di dalam kendaraan pada saat bepergian.

Selain berisi berita dan hiburan yang bermanfaat, radio seringkali juga dapat menyebarkan paparan negatif bagi anak-anak apabila konten yang sedang disiarkan sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa seperti berita atau perbincangan tentang permasalahan seksual, kekerasan atau terorisme, masalah percintaan, dan lain sebagainya. Di samping itu lagu-lagu yang disiarkan oleh radio ataupun yang diputar sendiri melalui pemutar lagu juga dapat menyebarkan paparan negatif karena saat ini banyak lagu yang beredar memiliki lirik-lirik yang bermuatan keputusasaan, kebencian, atau kenakalan yang bermuatan seksual seperti ajakan bercinta atau persoalan perselingkuhan.

Media Visual

Seringkali orangtua merasa senang apabila melihat anaknya gemar membaca. Namun, kenyataannya saat ini banyak artikel atau buku (baik cetak maupun online) yang berisi hal-hal tidak baik sehingga berpotensi menjadi paparan negatif bagi anak-anak.

Dimulai dari artikel populer hingga karya sastra (novel/cerpen) yang berisi kisah percintaan dewasa atau kekerasan/pembunuhan, di samping juga bermuatan kata-kata kasar yang mudah ditiru. Selain itu, melalui media sosial (medsos), saat ini pornografi sudah tersebar dengan cukup luas sehingga juga menjadi sangat mudah untuk diakses.

Media Audio Visual

Barangkali jenis media inilah yang paling banyak menarik perhatian anak-anak dan, oleh karenanya, paling mudah memberikan dampak imitasi atau dorongan untuk meniru perilaku yang ditampilkan di dalam televisi.

Berbagai video online, video game, atau video/film dalam tayangan televisi kini telah menjadi hal yang biasa kita konsumsi dalam rutinitas sehari-hari. Lebih jauh dari media audio dan media visual, media audio-visual sanggup membentuk nilai-nilai artifisial yang bahkan dapat memengaruhi gaya hidup dan kepribadian seseorang. Jika orang dewasa saja masih seringkali terjebak dalam dunia artifisial yang diciptakan oleh jaringan multimedia ini (terutama televisi), maka anak-anak tentunya dapat berada dalam kondisi yang lebih riskan daripada orang dewasa.

Upaya yang Bisa Dilakukan oleh Orangtua

Dampingi anak dalam bermedia

Untuk anak usia dini, Sahabat sebagai orangtua dapat membantu memastikan agar anak tidak mendapatkan paparan negatif dari media dengan ikut mengawasi konten media yang mereka terima seperti lagu yang biasa mereka dengarkan, tulisan atau gambar yang mereka lihat, atau tayangan yang mereka tonton.

paparan negatif dari media
Anak dan Gadget

Seiring perkembangan usianya, dampingi mereka dalam memilah, memilih, dan mengolah informasi yang tersebar luas di media. Bagi anak seusia SD dan SMP, buat batasan dengan tidak memberikannya penguasaan penuh terhadap gawai (gadget) yang mereka pakai. Status komputer atau smartphone adalah “pinjaman” dari orangtua sehingga kita masih bisa mengatur penggunaan anak terhadap media tersebut. Pada intinya, selama anak-anak berkembang di usia tujuh tahun pertama dan ke dua (0-14 tahun), Sahabat sebagai orang tua masih perlu membantu mereka untuk bisa mengolah setiap informasi, baik informasi negatif maupun positif. Dengan dampingan yang semestinya, misalnya dengan memberikan penjelasan atau mengajak berdiskusi, setiap informasi negatif tidak akan berujung menjadi paparan negatif bagi anak.

 

Baca juga : Panduan Penggunaan Gadget dan Media Digital Untuk Anak

Pahami rating usia dari setiap media

Bukan hanya berasal dari konten negatif seperti kekerasan, ujaran kebencian, dan lain sebagainya, bagi anak-anak, konten umum yang semestinya diperuntukkan bagi orang dewasa juga dapat menjadi paparan negatif apabila dikonsumsi begitu saja tanpa dampingan yang semestinya.

Oleh karenanya Sahabat sebagai orangtua dapat mengatur dan memastikan bahwa setiap media yang diakses oleh anak-anak kita memang sesuai dengan rating usianya. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa seringkali banyak anak yang membaca sebuah buku (terutama novel), mendengarkan lagu, menonton film (termasuk kartun), dan memainkan sebuah game yang sebenarnya bukan diperuntukkan untuk anak-anak. Di usia yang masih dini, banyak anak yang sudah terpapar dengan kisah percintaan orang dewasa, sinisme, egoisme, pergaulan bebas, perilaku kekerasan (bahkan pembunuhan), dan sebagainya yang malah memberikan referensi negatif bagi mereka.

Mengingat regulasi di Indonesia masih lemah terhadap hal ini, maka peran Sahabat sebagai orangtua kini menjadi semakin penting.

Beberapa sumber informasi rating :

Game : Indonesia Game Rating System (IGRS).  Sayangnya situs ini belum memiliki informasi rating untuk semua game yang beredar di Indonesia. Sahabat mungkin bisa melakukan perbandingan melalui situs rating game ESRB yang berbasis di Amerika.

Film : Lembaga Sensor Film Republik Indonesia

Bangun bekal nilai dan kemampuan berpikir kritis

Pada kenyataannya tentu tidak mungkin untuk bisa menutup seluruh akses paparan negatif yang diterima anak kita dari berbagai media di tengah lingkungannya. Oleh karenanya, Sahabat bisa membekali mereka dengan kemampuan yang baik untuk mengolah informasi. Dimulai dari sejak kecil, berikan anak kemampuan untuk dapat menilai sesuatu yang baik dan buruk, sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan atas dasar apresiasi terhadap orang lain dan lingkungannya. Seiring dengan perkembangan usia anak kita, mulai ajak mereka untuk mendiskusikan segala hal saat mendampinginya mengakses media (misalnya pada saat mendengarkan lagu atau menonton tv bersama).

Lebih jauh, ketika anak sudah mulai beranjak remaja, bekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis. Hal ini bisa dilakukan dengan cara melanjutkan diskusi-diskusi yang sudah rutin dilakukan sejak kecil dan mengembangkannya ke tahap mendiskusikan kebenaran dari sebuah informasi dan mengurai berbagai dampak dari setiap perbuatan.

Semoga dengan bertambahnya pemahaman terhadap potensi paparan negatif dari berbagai jenis media dan hal-hal yang bisa kita lakukan dalam proses pendampingannya, kita sebagai orangtua dapat senantiasa membantu memastikan kebaikan bagi proses pertumbuhan anak-anak kita. Tetap selamat dan bahagia ya Sahabat :).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here