Mencegah Kekerasan di Sekolah dengan Meningkatkan Kualitas Interaksi Ortu, Guru, dan Murid

kekerasan di sekolah
https://pixabay.com/en/happy-school-student-teacher-2808385/
Beberapa contoh bentuk kekerasan di sekolah

Dunia pendidikan saat ini masih dalam kondisi yang memprihatinkan terkait dengan maraknya tindakan kekerasan di sekolah anak. Ironisnya tindakan kekerasan ini melibatkan dua pihak yang seharusnya memiliki interaksi atau hubungan yang positif, yakni guru dan murid, baik kemudian mereka menjadi pelaku atau pun korban. Tentu saja kondisi ini tidak bisa dibiarkan, Sahabat sebagai orangtua juga memiliki peran yang cukup penting untuk mencegahnya dengan cara meningkatkan kualitas hubungan pendidikan antara orangtua, anak, dan guru.

Hubungan Sosial Pendidikan di Sekolah

Pihak yang harus bekerjasama dalam proses belajar anak-anak di sekolah adalah orangtua dan guru. Jadi, hubungan yang baik harus terjalin antara orangtua, anak, dan guru. Bagaimanakah hubungan baik yang dimaksud di sini? Hubungan baik yang dimaksud adalah terbangunnya kenyamanan, kepercayaan, dan keterbukaan (komunikasi yang intens) dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Hubungan yang baik ini harus terbangun antara orangtua dan anak, anak dan guru, maupun guru dan orangtua untuk mencegah tindakan kekerasan yang mungkin saja terjadi di antara mereka.

Cara Meningkatkan Kualitas Hubungan Pendidikan bagi Guru dan Orangtua

  • Memahamai Karakteristik dan Kebutuhan Anak

Setiap anak itu unik. Kita sebagai pihak dewasa semestinya tidak menyeragamkan cara pendampingan untuk semua anak, baik anak-anak di sekolah (anggota kelas) maupun di rumah (adik-kakak). Oleh karenanya, langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah memahami karakteristik mereka. Pelajari lebih jauh keunikan setiap anak, apakah ia tipe anak yang aktif, sensitif, temperamen, kritis, dan sebagainya. Apa yang ia sukai, bagaimana cara belajarnya, bagaimana hubungan pertemanannya, dan sebagainya. Bahkan, kita juga perlu mengetahui bagaimana biasanya karakteristik dari anak pertama, kedua, dan seterusnya. Semua hal ini bisa kita ketahui dengan berbagai cara mulai dari membuka dokumen akademik hingga mengamatinya secara langsung.

Setelah mengetahui karakteristiknya, hal yang perlu kita pahami adalah apa yang ia butuhkan terutama dalam proses belajarnya.

Seorang anak yang belum mengasah kemampuan kreatifitasnya tentu memiliki kebutuhan untuk memperkaya referensinya tentang cara mengkreasikan sesuatu.

Seorang anak yang tidak apresiatif tentu membutuhkan pemahaman tentang arti penting dari sikap menghargai.

Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam menghitung tentu perlu dampingan yang lebih saat mempelajari matematika.

Seorang anak yang senang mencari perhatian dengan berbagai cara, termasuk dengan berbuat hal yang tidak baik, mungkin membutuhkan perhatian dan waktu kebersamaan yang lebih dari orangtua dan gurunya.

  • Menjadikan Hubungan Orangtua-Guru sebagai Partner

Seringkali sekolah menjadi tempat “penitipan” anak sementara orangtua bekerja. Banyak juga orangtua yang hingga kini masih percaya jika sekolah adalah tempat mendidik anak yang utama tanpa perlu bantuan atau kerjasama dari rumah. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya komunikasi yang terjalin antara rumah dan sekolah sehingga pendampingan anak menjadi tidak utuh. Maka, dengan menjadikan guru sebagai partner, orangtua dapat mulai membangun komunikasi dan kerjasama untuk saling mengetahui perkembangan anak, apa pencapaian-pencapaian kecil yang telah mereka raih, dan apa kendala yang sedang mereka hadapi dalam kesehariannya. Berangkat dari itu, orangtua dan guru dapat saling mengetahui kesulitan dan tantangan yang sedang dihadapi dalam mendampingi proses belajar setiap anak.

  • Meningkatkan Intensitas Obrolan

Biasanya, jauh dekatnya hubungan antara dua orang dipengaruhi oleh seberapa banyaknya mereka saling berkomunikasi (misalnya dengan cara mengobrol). Dengan sering mengobrol, kita dapat mengetahui lebih banyak hal-hal tentang lawan bicara kita, termasuk karakteristiknya. Oleh karenanya orangtua harus dapat mencoba mengalokasikan waktu untuk saling mengobrol dan berbagi, baik dengan anak maupun dengan guru. Intensitas komunikasi yang cukup akan membuat kita saling terbuka satu sama lain sehingga orangtua dan guru dapat mengidentifikasi permasalahan yang sedang dihadapi anak sejak awal sebelum masalah yang mereka hadapi berlarut larut dan semakin membesar.

  • Membangun Hubungan yang Cair (Multiperan)

Sebagai orang dewasa, kita perlu menghadirkan diri secara fleksibel di hadapan anak-anak. Ada saatnya seorang guru berperan sebagai teman diskusi atau sosok kakak (orang dewasa) yang dapat mengerti permasalahan remaja. Orangtua juga dapat menjadi teman yang asyik di saat tertentu ketika di saat yang lain ia adalah sosok pengayom yang “ditakuti” dengan segala otoritas yang dimilikinya. Peran tunggal seperti guru yang hanya bertugas mengajarkan ilmu di sekolah dan orangtua yang hanya bertugas mencari nafkah dan memberikan uang jajan semata akan membuat anak gagal memahami sosok orang dewasa sebagai manusia yang utuh.

  • Menerapkan Disiplin Positif

Disiplin positif berkaitan dengan penerapan disiplin tanpa kekerasan. Dalam disiplin positif terdapat konsep Loving Authority (Otoritas penuh kasih) yang membuat orangtua dan guru dapat bertindak tegas kepada anak namun anak memahaminya sebagai bentuk perhatian sehingga hubungan yang terjalin akan tetap baik. Untuk lebih jauhnya Sahabat dapat mempelajarinya di artikel ini: Disiplin Positif: Membangun Nilai Kedisiplinan Tanpa Kekerasan.

Mencegah tindakan kekerasan di sekolah dapat dilakukan dengan memperbaiki hubungan antara orangtua, anak, dan guru. Sedangkan kunci bagi sebuah hubungan yang baik adalah terjalinnya komunikasi yang juga baik. Semoga kita sebagai orangtua dapat menjalankan peran penting yang seharusnya dalam proses pendidikan anak-anak, sehingga keluarga kita dapat tetap aman dan terhindar dari segala potensi bahaya. 🙂

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here