Memperjuangkan Sekolah Ramah Anak Untuk Buah Hati

Sahabat mungkin telah mengatahui mengenai konsep Sekolah Ramah Anak seperti yang dibahas di artikel sebelumnya. Mewujudkan Sekolah Ramah Anak di Indonesia untuk anak-anak kita bukan hal yang mustahil. Tapi menyerahkan semua pelaksanaan dan pengawasan terhadap pemerintah dan pihak sekolah tentunya bukan hal yang tepat ya, Sahabat. Sebagai orang tua siswa, kita harus rajin memantau keterlaksanaan prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak. Bahkan, anak-anak kitapun harus aktif dalam perannya untuk menyukseskan terwujudnya Sekolah Ramah Anak. Orang tua juga harus turut memperjuangkan sekolah ramah anak untuk buah hatinya. Bagaimana caranya? Yuk, kita simak.

Partisipasi Anak untuk Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

– Kegiatan OSIS
Anak sebagai peserta didik harus terlibat dan aktif mencari tahu tentang program-program di sekolahnya. Mereka harus kritis jika program di sekolahnya belum memfasilitasi kebutuhan mereka. Kebijakan dan tata tertib sekolah juga harus disusun dengan musyawarah bersama anak didik. Organisasi siswa seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), wajib memiliki seksi khusus yang bertugas untuk memantau kebijakan-kebijakan sekolah yang berkaitan dengan hak siswa agar sesuai dengan prinsip Sekolah Ramah Anak.

– Kegiatan ekstrakulikuler
Selain CAT_SK_Memperjuangkan Sekolah Ramah Anak Untuk Buah Hati 2melalui OSIS, anak bisa berperan aktif melalui kegiatan ekstrakurikuler. Anak yang mengikuti kegiatan Palang Merah Remaja (PMR), bisa berperan sebagai kader kesehatan. Bukan hanya mengkritisi kebijakan di sekolah terkait fasilitas kesehatan, keamanan dan kebersihan lingkungan sekolah, namun anak juga bisa aktif mengembangkan fasilitas yang sudah ada. Misalnya terlibat dalam penanganan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) saat acara-acara tertentu.

– Masukan anak untuk sekolah
Guru dan petugas-petugas lain yang bekerja di lingkungan sekolah, sebaiknya juga secara aktif menghimpun saran dan kritik anak. Tugas orang dewasa di sekolah adalah mendengarkan dan mempertimbangkan usulan anak untuk memetakan pemenuhan hak dan perlindungan anak sehingga terwujud Sekolah Ramah Anak yang tika cita-citakan. Jika ada penilaian atau survey dari dinas terkait, anak diharapkan aktif memberikan penilaian terhadap pelaksanaan dan pertanggungjawaban pelaksanaan prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak di sekolahnya.

Partisipasi Orang Tua untuk Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

– Dengarkan curhatan anak
Sahabat sebagai orang tua anak tentu memiliki peran penting. Sahabat harus menyediakan waktu minimal dua puluh menit setiap hari untuk mendengarkan dan menanggapi cerita anak. Jika anak tidak bisa mencurahkan permasalahannya kepada guru atau tenaga konseling di sekolah, semoga dengan adanya quality time yang Sahabat sediakan untuk mereka setiap hari ini, anak bisa melimpahkan keluk kesahnya tentang apa yang dialami di sekolah. Tidak jarang persoalan-persoalan sensitif seperti bullying atau pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi di sekolahnya dapat terungkap berkat kesabaran orang tua dalam menanggapi cerita-cerita anaknya.

Partisipasi orang tua sangat penting untuk terwujudnya sekolah ramah anak
Partisipasi orang tua sangat penting untuk terwujudnya sekolah ramah anak

Anak-anak cenderung polos dan tidak memiliki prasangka buruk terhadap lingkungannya, termasuk lingkungan sekolah. Kepekaan Sahabat sebagai orang tua adalah senjata paling ampuh untuk melindungi anak saat anak tidak berada dalam perlindungan orang tua, misalnya saat anak di sekolah. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “tadi kamu belajar apa di sekolah?” atau “ kamu main dengan siapa saja di sekolah? Mainan apa?” mungkin adalah hal sederhana yang bisa menyelamatkan masa depan anak Sahabat dari hal-hal buruk ketimbang hanya memantau anak dari nilai rapor dan laporan guru. Sahabat harus menyediakan waktu, pikiran, tenaga, dan materi sesuai kemampuan untuk menunjang pertumbuhan anak, mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan anak. Sekolah tentu memiliki keterbatasan untuk menyediakan semua hal itu karena setiap anak memiliki kebutuhan dan keunikan masing-masing. Kewajiban orang tualah yang harus mendukung perkembangan kemampuan anak di rumah.

– Lindungi anak dari gadget negatif
Penggunaan gadget atau peralatan elektronik berteknologi yang tidak bisa dihindari saat ini, harus tidak luput dari pengawasan orang tua. Anak harus dipastikan menggunakan peralatan tersebut dengan aman, bebas dari pornografi dan pornoaksi. Caranya, pastikan anak menonton acara televisi yang sesuai dengan usia dan masa perkembangan anak. Pilihlah tontonan yang mendidik untuk mendukung perkembangan otak anak. Tidak boleh ada penggunaan internet baik melalui komputer maupun ponsel di ruang tertutup, sehingga media yang diakses oleh anak terkontrol oleh orang tua.

– Masukan orang tua untuk sekolah
Sahabat juga bisa mengontrol pendidikan yang diperoleh anak di sekolah dengan cara memberikan persetujuan untuk setiap kegiatan anak di sekolah agar sesuai dengan prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak. Sahabat sebaiknya terlibat dalam penyusunan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) dengan cara aktif mengikuti pertemuan koordinasi antara sekolah dengan orang tua anak.

Partisipasi Lembaga Masyarakat dan Dunia Usaha untuk Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

Lembaga masyarakat baik milik pemerintah mauun bukan milik pemerintah wajib memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penyelenggaraan Sekolah Ramah Anak. Bersama-sama dengan pihak sekolah, lembaga masyarakat terlibat dalam proses pegawasan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan anak. Dengan bersikap proaktif dalam mendukung upaya penerapan prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak, diharapkan setiap sekolah di Indonesia akan lebih mudah mewujudkan Sekolah Ra mah Anak. Dukungan dari lembaga masyarakat juga dapat diwujudkan dengan cara memberi akses unuk kegiatan penunjang kegiatan pembelajaran di sekolah, misalnya karyawisata, Praktik Kerja Lapangan (PKL), maupun kegiatan seni dan budaya.

Pelaku dunia usaha juga punya kewajiban untuk menyukseskan Sekolah Ramah Anak. Mereka memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau yang lebih dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Melalui program tersebut, pengusaha dapat membantu memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penyelenggaraan Sekolah Ramah Anak. Dana dari program CSR bisa disalurkan untuk membangun sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan di sekolah. Anak melalui bantuan perusahaan juga bisa mendapatkan akses dan kemudahan untuk melakukan kegiatan-kegiatan penunjang pendidikan di sekolah seperti karyawisata dan Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Partisipasi Pemangku Kepentingan untuk Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

– Kontrol pemerintah
Pemangku kepentingan atau stakeholder dalam hal ini adalah pihak-pihak yang terkait dengan isu dan permasalahan tentang Sekolah Ramah Anak. Dinas Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Desa/Kelurahan, Kecamatan dan Kabupaten setempat, adalah beberapa pemangku kepentingan yang harus ikut aktif mengontrol terwujudnya Sekolah Ramah Anak. Jika fungsi pengawasan dari pemangku kepentingan dilaksanakan dengan baik dan transparan, maka sekolah yang malas untuk berbenah tentu mau tidak mau harus berpikir ulang jika ingin mengabaikan prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak. Dinas yang terkait secara langsung yaitu Dinas Pendidikan bisa menjatuhkan sanksi terhadap sekolah yang masih abai terhadap pemenuhan hak anak di sekolah.

– Fasilitasi kebutuhan sekolah
Selain mengontrol dan mengawasi, pemangku kepentingan juga harus ikut serta memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penyelenggaraan Sekolah Ramah Anak serta menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan Sekolah Ramah Anak. Ppihak-pihak ini seperti halnya orang tua dan masyarakat, tentu wajib untuk bersikap proaktif untuk melindungi anak dari pengaruh buruk lingkungan. Salah satu contoh, pihak kepolisian aktif melakukan kegiatan pemberantasan narkoba agar peredarannya tidak sampai menyentuh anak-anak.

Partisipasi Alumni untuk Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

Sahabat tentu adalah alumni dari suatu sekolah, bukan? Nah, perlu juga mengetahui bahwa sebagai alumni, Sahabat harus mendukung penyelenggaraan kegiatan di sekolah. Hal yang sering dilakukan alumni biasanya adalah memberikan bantuan dana untuk kegiatan sekolah, memberikan bantuan untuk siswa miskin, atau bantuan lain yang hanya melibatkan uang. Padahal, tugas alumni yang utama untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak adalah berperan aktif dalam proses kontrol atau pengawasan. Pasa struktur organisasi Komite Sekolah, alumni wajib diikutsertakan menjadi pengurus. Melalui wadah tersebut, alumni sekolah dapat memberikan sumbangan berupa ide-ide untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak serta mengawasi kebijakan yang diberlakukan di sekolah.
Sekolah Ramah Anak akan menjadi sekedar konsep kosong alias hanya sebagai formalitas di atas kertas tanpa kontribusi dari setiap komponen masyarakat bangsa ini, termasuk Sahabat. Jadi, mari kita menyekolahkan anak dengan bijak. Tidak sekedar menyalahkan dan mencari kekurangan pihak sekolah, tapi punya andil nyata demi mewujudkan Sekolah Ramah Anak.

Sumber artikel:
– Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak
– Child Friendly Schools Manual oleh UNICEF

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here