Memahami Penyebab Tindakan Bullying dan Cara Pencegahannya

Bullying pada anak

Fenomena perisakan atau yang biasa kita kenal dengan istilah bullying selalu menjadi topik rutin yang diberitakan oleh media. Tentunya ini erat kaitannya dengan persoalan keselamatan anak di sekolah, tempat di mana mereka menghabiskan sebagian besar waktu dalam kesehariannya. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang penting untuk dapat diperhatikan Sahabat yang berperan sebagai orang tua.

Setelah dalam artikel sebelumnya menyajikan kepada Sahabat mengenai klasifikasi perisakan, dampaknya serta cara indetifikasi pada korban dan pelaku, dalam artikel kali ini tim redaksi akan menggali lebih lanjut mengenai bentuk tindakan perisakan, penyebab dan cara pencegahannya agar dapat membantu Sahabat untuk menghindarkan si buah hati dari tindakan perisakan tersebut.

Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh International Center for Research on Women (ICRW) pada tahun lalu menyebutkan bahwa terdapat 84% anak di Indonesia yang mengalami kekerasan di sekolah. Hal tersebut seakan mengonfirmasi pemberitaan media yang seringkali mengangkat isu tentang perisakan, baik yang dilakukan oleh sesama siswa maupun pihak lain seperti guru dan pekerja staf sekolah. Tentunya fenomena ini menjadi hal yang perlu Sahabat pahami karena proses interaksi sosial anak di sekolah seringkali tidak berada di bawah pengawasan langsung kita sebagai orang tua.

Apa itu perisakan dan bagaimana bentuk-bentuk tindakannya?

Seperti yang diketahui secara umum, perisakan adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk membuat orang lain, yang biasanya lemah dan tak berdaya, merasa takut dan tersakiti. Oleh karenanya, perisakan sesungguhnya menyerang kondisi mental seseorang yang menjadi korban dari tindakan tersebut. Karena sifatnya yang mengancam hak kenyamanan dan keselamatan seseorang, maka dengan alasan apapun tindakan ini sama sekali tidak dapat dibenarkan. Untuk lebih jauh memahami bentuk tindakan perisakan, setidaknya kita dapat menggolongkan jenisnya menjadi dua sebagai berikut:

Perisakan langsung

Perisakan langsung adalah tindakan perisakan yang dilakukan pelaku secara langsung kepada korbannya. Tindakan ini bisa dilakukan secara fisik, verbal, maupun tulisan. Tindakan fisik misalnya seperti: memukul, menendang, menampar, mencekik, menggigit, mencakar, meludahi, merusak barang-barang pribadi, melakukan pelecehan seksual, dan lain sebagainya. Tindakan fisik juga bisa hanya melalui gestur yang intimidatif seperti melalui pandangan atau lirikan mata, helaan nafas, cibiran, tawa, atau bahasa tubuh lain yang bermuatan agresif atau melecehkan. Sedangkan tindakan verbal misalnya seperti: mencela, memfitnah, mengkritik secara destruktif, menghina, dan lain sebagainya. Di samping itu, tindakan tertulis adalah misalnya dengan membuat dan mengirimkan/menyebarkan tulisan, animasi, gambar, atau bahkan rekaman video yang sifatnya mengintimidasi atau mempermalukan korbannya.

Perisakan tidak langsung

Jika tindakan perisakan langsung tampak jelas untuk bisa kita identifikasi, perisakan tidak langsung seringkali berlangsung secara tersembunyi sehingga tidak mudah kita ketahui. Tindakan ini misalnya bisa terjadi dalam bentuk seperti: mengabaikan atau mengucilkan seseorang dari lingkungan sosialnya, membiarkan seseorang yang sedang benar-benar membutuhkan pertolongan, menyebarkan fitnah atau gossip untuk mencemarkan nama baik, dan lain sebagainya.

Penyebab Perisakan

Perilaku yang terkait dengan perisakan dapat kita lihat dari dua sisi yang terkait, yakni pelaku dan korban. Keduanya perlu mendapatkan perhatian khusus agar kita dapat memahami penyebabnya secara menyeluruh. Dalam kasus perisakan, pihak korban biasanya memiliki daya kekuatan yang lebih lemah dibandingkan pelaku. Oleh karenanya, sikap umum yang hanya selalu membela korban dan menyudutkan pelaku sebenarnya bisa menjadi sebuah kekeliruan karena, dalam banyak kasus, korban perisakan juga dapat beralih peran menjadi pelaku apabila ia menemukan pihak lain yang lebih lemah darinya untuk dijadikan korban selanjutnya. Penyebab perisakan ini dapat diidentifikasi dari hal-hal berikut ini:

Sisi Pelaku

Hal yang paling mendasar dari penyebab tindakan perisakan adalah adanya paparan bentuk kekerasan dalam keseharian yang kemudian memengaruhi pola pikir anak dalam berperilaku. Paparan tersebut bisa berasal misalnya dari keluarga (rumah), lingkungan sosial (masyarakat, termasuk lingkar pergaulan dan pertemanan), serta media (tv, buku, video game, dsb). Seorang anak yang terpapar atau bahkan mengalami tindakan kekerasan secara langsung, baik di rumah atau di lingkungannya patut dikhawatirkan memiliki kualitas diri untuk melakukan tindakan yang serupa. Di samping itu, paparan secara tidak langsung dari bacaan, tontonan televisi, maupun video game, terutama yang frekuensinya cukup sering, juga dikhawatirkan akan berdampak pada pembentukan pola pikir yang menganggap tindakan kekerasan adalah hal yang wajar dan bisa diterima atau bahkan dilakukan dalam keseharian.

Tentunya, terpapar dengan beragam bentuk perilaku kekerasan tidak mesti membuat anak menjadi pelaku perisakan. Namun, paparan kekerasan yang telah menjadi referensi dalam benak setiap anak cenderung akan semakin menjadi hal yang negatif apabila seorang anak juga kurang memiliki kesadaran untuk dapat menghargai atau lebih jauhnya dapat bersimpati dan berempati terhadap orang lain.

Sisi Korban

Mengingat tindakan perisakan terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pihak pelaku dan korban, maka kelemahan-kelemahan pihak korban sebagai penyebab perisakan juga menjadi hal yang sama-sama penting untuk diperhatikan. Dalam hal ini, pihak korban juga dapat menyumbang penyebab tindakan perisakan dengan secara tidak langsung mengundang dirinya menjadi pihak yang dapat menjadi sasaran empuk dari tindakan perisakan. Perilaku tersebut misalnya seperti: bersikap kurang percaya diri, tidak punya keberanian, tidak memiliki teman (kurang pergaulan), atau kurang terbuka terhadap orang lain.

 Orang tua menyikapi bullying

Orang tua menyikapi bullying

Apa yang dapat dilakukan orang tua?

Berangkat dari pembahasan singkat tentang perisakan yang telah disampaikan di atas, Sahabat dapat mencoba mengupayakan cara pencegahan terjadinya tindakan perisakan pada anak-anak dengan memerhatikan hal-hal berikut:

Mendampingi paparan yang negatif

Sahabat perlu memastikan agar anak jangan sampai mengalami tindakan kekerasan di lingkungan tempat tinggalnya. Sahabat juga bisa memastikan agar anak tidak mendapatkan paparan beragam bentuk kekerasan secara bebas tanpa dampingan, dengan misalnya tidak menghadirkan perselisihan rumah tangga di hadapan anak, mengawasi lingkungan pergaulan anak saat bermain dengan teman-temannya, dan mengamati konsumsi mereka dari media seperti tv, komputer, gawai (gadget), baik saat berselancar internet maupun saat bermain video game. Daripada memilih upaya yang mudah dengan banyak melarang tanpa alasan, akan lebih baik jika Sahabat dapat mendampingi dan memberikan pengarahan yang positif saat anak, dengan kemampuan eksploratifnya, menemui banyak paparan yang beragam dari lingkungannya.

Menumbuhkan pemahaman

Ajak anak untuk rutin mendiskusikan hal-hal ringan dalam keseharian, seperti menggali pendapat mereka tentang kehidupan para pedagang kecil, tentang anak jalanan yang tidak bisa bersekolah, tentang tetangga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, dan lain sebagainya untuk mengasah sikap apresiatif dan kepekaan serta rasa empatinya terhadap orang lain. Selanjutnya, Sahabat juga bisa mulai menggali dan menggenapkan pemahaman anak tentang fenomena perisakan. Menumbuhkan pemahaman jika perisakan adalah tindakan yang buruk dan merugikan, akan membentuk cara pandang yang tepat di benak anak jika segala bentuk tindakan perisakan adalah sesuatu yang mesti dihindari dan tidak pantas diterima.

Membangun keterbukaan anak dan orang tua

Selanjutnya hal penting yang mesti dibangun antara anak dan orang tua adalah bentuk hubungan keduanya yang didasarkan pada kepercayaan dan keterbukaan. Biasakan anak untuk bercerita tentang sesuatu yang berkesan dalam kesehariannya. Sahabat dapat menyediakan diri untuk mendengarkan cerita dengan memancing obrolan melalui pertanyaan-pertanyaan seperti: “Bagaimana hari ini di sekolahmu?”, “Apakah menyenangkan?”, “Apa kamu memiliki kendala/permasalahan di sekolah?”, “Apa teman-temanmu bersikap baik?”, dan lain sebagainya. Meskipun pada usia remaja biasanya anak-anak tidak mudah bersikap terbuka terhadap orang tua, kesadaran bahwa orang tua selalu bersikap peduli dan dapat menjadi tempat mereka mengadu perasaan akan membuat anak sebagai korban perisakan dapat secara cepat teridentifikasi untuk segera kita tindak lebih lanjut.

Menjalin kerjasama rumah dan sekolah

Setelah memastikan anak mendapatkan dampingan yang baik di rumah, Sahabat perlu menjalin kerjasama yang baik dengan sekolah sebagai tempat anak berproses bersama lingkungannya di bawah pengawasan guru-guru. Pertama-tama, Sahabat dapat mengecek apakah sekolah juga memerhatikan dengan baik fenomena perisakan atau tidak. Perhatian terhadap fenomena perisakan, sesungguhnya tidak hanya berwujud dalam bentuk peraturan-peraturan dengan sanksi yang tegas, tapi bagaimana sekolah dapat mengintegrasikan pengolahan karakter saling menghargai dan bersikap empati dalam program kesehariannya (Lihat artikel tentang sekolah ramah anak di sini [Link Artikel ‘Sekilas Mengenai Sekolah Ramah Anak]). Kemudian, Sahabat bisa menjalin komunikasi secara berkala dengan guru-guru kelas yang bersangkutan untuk sama-sama memerhatikan dan memastikan proses belajar anak berlangsung tanpa terganggu oleh perilaku perisakan.

Kesimpulan

Tindakan perisakan merupakan salah satu bentuk perilaku yang mesti kita waspadai sebagai orang tua karena berkaitan dengan peran kita untuk menjaga keluarga. Dalam ulasan mengenai seputar penyebab perisakan tersebut, Sahabat dapat melihat bahwa perhatian dan kepedulian sebagai orang tua adalah kunci bagi upaya untuk meminimalisir tindakan perisakan yang melibatkan anak-anak di sekolah. Memandang bahwa orang tua dan sekolah (guru-guru) adalah partner mendidik yang setara, maka tindakan proaktif dari Sahabat sebagai orang tua sangat dibutuhkan bagi genapnya pendampingan proses perkembangan anak di sekolah.

Tentunya, ulasan mengenai perisakan dalam artikel ini tidak dapat mewakili pembahasan mengenai persoalan perisakan secara menyeluruh. Memperkaya pemahaman dengan memperbanyak bacaan dan diskusi dengan orang lain adalah hal yang bisa Sahabat upayakan lebih lanjut untuk dapat memahami lebih jauh tentang hal ini. Akhir kata, semoga artikel ini dapat membantu mengingatkan kembali pentingnya perhatian orang tua bagi kebaikan proses tumbuh kembang anak-anak kita di manapun mereka berada.

 

Sumber:

  1. http://www.icrw.org/publications/are-schools-safe-and-gender-equal-spaces
  2. “Booklet Bullying (For Parents)”, dapat diunduh di http://www.unicef.org/ceecis/SVAC_Booklet_for_parents_web.pdf

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here