Konsep Rumah Tahan Gempa

Rumah tahan gempa

Sahabat, seperti kita ketahui, Indonesia adalah salah satu Negara di dunia dengan potensi gempa bumi terbesar. Namun hampir kebanyakan dari kita, Orang Indonesia, belum banyak memahami konsep bangunan tahan gempa. Kurangnya informasi dan penerapan aturan-aturan konstruksi di Indonesia menjadi salah satu penyebabnya. Mari mengenal lebih jauh seperti apa konsep bangunan / rumah tahan gempa.

Baca juga : Gempa Bumi, Mengenal Penyebab dan Efek Gempa Bumi , Panduan Praktis Menghadapi Bahaya Gempa Bumi

Fakta di lapangan menunjukkan, kerusakan akibat gempa di Indonesia banyak dialami oleh non-engineered building. Misalnya bangunan rumah tinggal, perumahan, bahkan beberapa bangunan perkantoran belum didesain untuk cukup kuat menahan beban gempa. Lain halnya dengan bangunan komersial seperti gedung bertingkat, mal, perkantoran, power plant, pabrik, dan lainnya. Pada umumnya bangunan komersial sudah didesain oleh para perencana nya untuk cukup kuat menahan beban gempa.

Ada beberapa konsep/ide mengenai bangunan tahan gempa ini, diantaranya adalah konsep Life Safety dan konsep Performance Based.

Konsep Life Safety

Konsep life safety masih banyak digunakan hingga akhir tahun 1990-an. Konsep ini mengizinkan bangunan untuk mengalami kerusakan saat gempa maksimum, tetapi bangunan tetap tidak boleh runtuh. Konsep ini berpandangan bahwa saat terjadi gempa, orang yang ada di dalam bangunan tidak akan tertimpa struktur bangunan, atau masih sempat melarikan diri keluar bangunan. Kekurangan dari konsep ini adalah tidak memperhitungkan apakah bangunan masih dapat digunakan secara layak sesuai fungsinya setelah terjadi gempa bumi.

Konsep Performance Based

Konsep performance based ini sebetulnya mengambil ide dari kitab undang-undang Hammurabi, Raja Babilonia (1792-1750 SM), yang menyebutkan bahwa “Bangunan tidak boleh runtuh dan membunuh orang”. Konsep ini memang lebih rumit dibanding life safety, karena konsep ini menerapkan bahwa bangunan harus tetap dapat digunakan sesuai dengan fungsinya setelah gempa terjadi. Artinya, kerusakan yang dialami bangunan, diusahakan dan didesain seminimal mungkin.


Beban Gempa Pada Bangunan

Sempat kita bahas sebelumnya pada tulisan Gempa Bumi, bahwa gaya gempa merupakan fungsi dari berat bangunan. Artinya, semakin besar berat bangunan, maka akan semakin besar gaya gempa yang dialami bangunan tersebut.

Pada prinsipnya, beban gempa yang terjadi pada bangunan harus disalurkan ke tanah/pondasi melalui berbagai elemen struktur bangunan yang dimiliki oleh sebuah bangunan. Kebanyakan bangunan yang runtuh tidak cukup memiliki elemen struktur yang kuat untuk menyalurkan beban gempa.

Elemen struktur utama pada bangunan sederhana untuk menyalurkan beban berat, ataupun beban gempa diantaranya adalah :

  1. Atap
  2. Kolom/tiang
  3. Balok
  4. Pondasi

Jika Sahabat ingin membangun rumah tahan gempa, sebetulnya sederhana, Sahabat cukup memberikan perhatian ekstra pada kekuatan elemen-elemen struktur diatas, sehingga beban gempa dapat tersalurkan dengan baik ke tanah/pondasi.

Rumah Tanpa Elemen Struktur Kolom dan Balok yang Hancur Akibat Gempa

Perlakuan engineering sederhana dapat diterapkan pada pembangunan rumah untuk mengakomodasi beban gempa yang terjadi. Berikut adalah beberapa konsep sederhana untuk rumah tahan gempa :

Konfigurasi Bangunan

Bangunlah rumah dengan konfigurasi sederhana dan simetris juga dengan memperhatikan hal-hal berikut :

  • Bangun dengan bentuk umum seperti persegi, persegi panjang yang pendek atau lingkaran
  • Hindari bentuk rumah yang panjang dan sempit dimana panjangnya lebih dari tiga kali ukuran lebarnya
  • Pasang kolom praktis pada dinding dengan luas > 12m persegi
  • pasang kolom praktis pada setiap pertemuan/irisan dinding
  • jika terdapat bukaan/void seperti jendela, pintu, dan sejenisnya, pasang kolom praktis dan balok praktis di sekeliling bukaan tersebut
  • Gunakan bahan ringan untuk atap, namun pastikan sambungan atap dengan bangunan cukup kuat untuk menghindari keruntuhan atap akibat beban angin
Retakan Pada Dinding Bangunan Dengan Void

Sambungan Antar Elemen Struktur

Selain elemen struktur, sambungan antara elemen struktur juga adalah hal yang penting diperhatikan. Pada praktiknya, pembangunan rumah dilakukan bertahap, dan pasti dijumpai sambungan antar elemen strukturnya. Jika kita memiliki elemen struktur yang kuat, tetapi ternyata sambungan antar elemennya buruk, dapat dipastikan keruntuhan akan terjadi pada sambungan elemen struktur saat gempa terjadi.

Bagaimana caranya kita tahu bahwa sambungan antar kolom dan balok rumah kita baik..?? dalam dunia teknik sipil, terutama bangunan beton, terdapat istilah panjang penyaluran tulangan. Pada SNI 03-2847-2002 diatur panjang penyaluran tulangan antar elemen struktur tidak boleh kurang dari 300mm atau untuk tulangan dibawah diameter 22mm, ditentukan kurang lebih sebesar 40D (40 kali diameter tulangan)Rumah sederhana tahan gempa 3

Tulangan Geser Pada Elemen Struktur

Gaya yang terjadi pada bangunan pada umumnya terdiri dari gaya vertikal (gaya berat) dan gaya horizontal (gempa, angin, dorong, dll). Gaya vertikal sebagian diakomodasi oleh elemen struktur kolom, sedangkan gaya horizontal akan disalurkan oleh balok menuju kolom. Namun ada saatnya elemen-elemen struktur ini menerima gaya kombinasi berupa gaya vertikal dan horizontal. Pada elemen kolom, yang notabene sebagai pilar utama bangunan, harus memiliki bagian yang mampu menahan beban horizontal disamping fungsi utama kolom sebagai penahan gaya vertikal.

Tulangan geser/sengkang adalah bagian dari kolom yang mampu mengakomodir gaya horizontal yang terjadi pada kolom. Tulangan geser/sengkang adalah tulangan yang dipasang melingkari tulangan utama elemen struktur, baik kolom atau balok. Kasus gempa bumi, tulangan geser ini memiliki peranan yang cukup penting pada elemen struktur kolom, karena dapat membantu meredam gaya dari gempa pada bangunan.

Pemasangan tulangan geser pun sudah diatur dalam SNI 03-2847-2002. Jarak tulangan geser tidak boleh melebihi 300mm, disarankan dalam rentang 150mm-200mm.

Kualitas Material Bangunan

Seperti membuat adonan kue, proses membangun rumah pun memerlukan racikan bahan yang baik dan tepat. Material yang digunakan untuk campuran beton, campuran mortar, serta material lain penyusun struktur rumah harus memiliki kualitas yang baik serta campuran yang tepat. Seringkali kita jumpai tukang yang membuat campuran pasir, semen, dan air yang sembarangan.

Untuk permasalahan campuran beton, sebetulnya Indonesia sudah memiliki standar sendiri, yaitu SNI-DT-91-0008-2007. Dari standar tersebut, Sahabat dapat melihat komposisi material untuk membuat campuran beton.

Rumah Sederhana Tahan Gempa

Selain penggunaan beton, perlu diperhatikan juga penggunaan tulangan. Tulangan yang baik untuk konstruksi adalah tulangan ulir, tidak disarankan menggunakan tulangan polos untuk konstruksi pada area gempa tinggi. Tulangan ulir menghasilkan lekatan yang lebih baik terhadap beton, karena memiliki tekstur. Tulangan polos cenderung tidak melekat erat pada beton, sehingga mudah terlepas.

Gunung Garuda Steel

Standar untuk bangunan gedung sebetulnya sudah ada di Indonesia, namun yang banyak dijumpai adalah pelaksanaan di lapangan yang belum memenuhi kaidah-kaidah standar pembangunan gedung. Hal ini tentunya menjadi perhatian kita semua, supaya barang yang kita beli, kita ciptakan, dan kita perbaharui sesuai dengan standar. Keamanan dan kenyamanan dapat lebih terjamin jika semuanya memenuhi standar yang telah ditentukan.

Tetap sehat dan selamat ya Sahabat..

Selanjutnya : Panduan Praktis Menghadapi Bahaya Gempa Bumi

Referensi :

Cara Membangun Rumah yang Kokoh dan Kuat – Build Change International (2009)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here