Kesepakatan Pra-Bencana, Kunci Kesiapsiagaan Keluarga

Kesepakatan pra-bencana cover

Sahabat, seperti kita pahami bersama, hidup tidak akan pernah lepas dari risiko bencana. Mulai dari gempa bumi, kebakaran, banjir, tsunami, dan lain-lain. Dalam kehidupan keluarga di rumah, kita tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa keluarga di rumah akibat bencana-bencana tersebut. Jika risiko bencana tidak dapat kita hindari, konsekuensi nya adalah harus kita hadapi. Seberapa siap keluarga kita di rumah untuk menghadapi berbagai risiko bencana? Sahabat dapat menyusun kesepakatan pra-bencana bersama anggota keluarga lain di rumah. Apa itu kesepakatan pra-bencana? mari kita simak ulasan nya.

Mengenal Kesepakatan Pra-Bencana

Hidup terdiri dari rangkaian pengambilan keputusan beserta segala konsekuensinya, baik keputusan yang diambil secara individu maupun kolektif. Pengambilan keputusan yang baik dihasilkan dari adanya informasi yang cukup dan pertimbangan yang matang. Bila menyangkut hajat hidup lebih dari satu orang, perlu kesepakatan dalam pengambilan keputusan. Dalam situasi darurat, seringkali diperlukan pengambilan keputusan dengan cepat, agar kerugian dapat diminimalisir dan situasi tetap terkendali.

Sesaat setelah terjadi bencana seperti gempa besar, seorang ibu harus memutuskan apakah pergi menjemput anaknya di sekolah saat itu juga, menunggu di rumah, atau langsung ketempat evakuasi dengan berharap seluruh anak sekolah diantar gurunya ke tempat evakuasi. Seorang walikota harus memutuskan bagaimana secara efektif mengelola bantuan yang datang bertubi-tubi bagi warganya. Paramedis harus memutuskan korban mana yang terlebih dahulu diselamatkan.

Dalam situasi darurat, sudah bukan waktunya mencari informasi dan diskusi panjang lebar untuk mengambil keputusan. Agar pengambilan keputusan cepat dan tepat, pencarian informasi dan diskusi perlu dilakukan sebelum terjadi bencana dan disepakati bersama oleh berbagai pihak terkait.

Kesepakatan Pra-Bencana (3)

Lalu, kesepakatan pra-bencana seperti apa yang perlu dibuat di tingkat rumah tangga? Artikel ini mencoba mengulas secara singkat langkah minimal yang perlu disepakati keluarga agar lebih siap siaga dalam menghadapi situasi darurat bencana. Berikut ini langkah-langkahnya :

Cari Informasi dan Pahami Situasi

Sebelum menyusun segala kesepakatan bersama seluruh anggota keluarga, keluarga, terutama kepala keluarga, perlu mencari beberapa informasi dasar dan memahaminya.

1. Informasi mengenai berbagai bahaya yang ada di sekitar.

Apakah rumah yang Sahabat ditinggali berada di kawasan rawan gempa, tsunami, banjir, kebakaran, atau lainnya?” atau yang lebih spesifik, seperti “bila terjadi gempa dengan skala tertentu, berapa lama waktu yang Sahabat miliki untuk berlari ke tempat tinggi, untuk menghindari tsunami?

Selain dari pengalaman sendiri atau lingkungan setempat, diperlukan referensi ilmiah dari pihak berwenang maupun praktisi keilmuan untuk mengenali risiko di lokasi rumah kita berada. Pihak berwenang di Indonesia yang terkait urusan kebencanaan diantaranya adalah BNPB, BPBD, BMKG, PVMBG, dan Dinas Kebakaran setempat.

Pemerintah kota/kabupaten setempat juga memiliki wewenang untuk mengelola risiko bencana yang ada di kotanya. Selain itu, ada juga berbagai LSM dan pusat studi perguruan tinggi yang memiliki keahlian di bidang kebencanaan. Sahabat KKC bersama warga sekitar dapat berkonsultasi pada para pihak tersebut untuk menemukenali bahaya apa saja yang ada di tempat tinggal beserta risiko bencananya. Sahabat juga dapat mengetahui respon terhadap berbagai bahaya dan memahami bagaimana sistem penanggulangan bencana yang akan diterapkan oleh berbagai pihak berwenang. Sehingga kita sebagai masyarakat paham apa yang sebaiknya dilakukan untuk mendukung sistem yang ada.

2. Informasi mengenai kondisi rumah. 

Mulai dari lokasi rumah, titik kumpul, jalur evakuasi, kekuatan konstruksi bangunan, denah rumah, sampai dengan peletakan barang. Sesuai jenis bahaya yang ada di rumah dan sekitarnya, dengan bantuan denah rumah, keluarga perlu mengidentifikasi dimana saja titik-titik rentan dan apa saja hal-hal yang dimiliki yang bisa membantu mengurangi risiko bahaya.

3. Informasi mengenai penghuni rumah. 

Seperti “berapa jumlah orang yang tinggal di rumah?”,“bagaimana jadwal sehari-hari serta kebiasaannya?”, atau “apakah ada anggota keluarga yang memiliki kebutuhan khusus, seperti anak-anak, manula, difabel, dan ibu hamil yang kebutuhannya berbeda-beda?”.

Apabila sudah memahami beberapa informasi diatas, maka keluarga dapat mulai merumuskan rencana-rencana sesuai dengan jenis bahayanya.

Lakukan Aksi Pengurangan Resiko Bencana

Apabila sudah memahami beberapa informasi diatas, maka keluarga dapat mulai merumuskan rencana-rencana sesuai dengan jenis bahayanya. Dimulai dari hal sederhana, misalnya, dalam konteks rumah yang berada di kawasan rawan gempa, sebuah keluarga sepakat untuk menurunkan benda-benda berat yang sebelumnya diletakkan di rak paling atas lemari ke rak yang paling bawah. Keluarga yang  rumahnya rawan kebakaran sepakat untuk menyediakan ember yang diisi air di siang hari, yang di pagi hari berikutnya digunakan untuk menyiram tanaman. Air yang berada dalam ember dapat langsung digunakan bila ada kebakaran. Kabel-kabel listrik dirapikan dan sambungan listrik dibersihkan secara berkala.

Untuk berbagai kebutuhan kesiapsiagaan, sebuah keluarga perlu menyiapkan jalur evakuasi (seperti yang pernah dibahas pada tulisan sebelumnya), tas darurat, dan daftar nomor kontak darurat, mulai dari nomor telepon pemadam kebakaran, ambulans, tetangga, dan kerabat yang dipajang di beberapa tempat strategis.

Sepakati Beberapa Skenario Tanggap Bencana

Berdasarkan upaya yang sudah dilakukan sebelumnya, yaitu mencari informasi yang relevan dan melakukan aksi pengurangan risiko bencana di dalam rumah, keluarga perlu menyepakati rencana darurat dengan beberapa skenario. Skenario dibuat bersama seluruh anggota keluarga sesuai jenis bahaya yang mengancam. Dalam setiap skenario, disepakati siapa, melakukan apa, dan bagaimana caranya. Mengapa harus dibuat beberapa skenario?

Aksi yang perlu dilakukan bisa jadi berbeda untuk kondisi yang berbeda. Tentu saja aksi yang dilakukan bila gempa terjadi pada jam sekolah/kantor berbeda dengan ketika gempa terjadi pada malam hari saat semua orang sedang tidur. Begitu pula ketika hari libur, ketika seluruh keluarga ada di rumah di siang hari. Skenario untuk gempa pun akan berbeda dengan skenario untuk kebakaran dan banjir.

Rencana darurat yang disusun harus dikomunikasikan dengan anggota keluarga di rumah, kerabat yang ada dalam daftar kontak darurat, serta mempertimbangkan sistem yang diterapkan lingkungan sekitar dan pihak berwenang. Bila rencana sudah disepakati, keluarga perlu melakukan simulasi secara berkala agar tidak panik dalam situasi darurat.

Dengan informasi yang cukup dan rencana yang telah disepakati sebelum terjadi bencana, diharapkan dapat memperlancar berbagai proses pengambilan keputusan oleh setiap anggota keluarga dalam situasi darurat. Langkah-langkah tersebut juga dapat diadopsi untuk kesiapan menghadapi kondisi  darurat dengan berbagai pemicu lain, misalnya pertolongan pertama ketika ada anggota keluarga yang pingsan, meledaknya tabung gas, atau bahkan terhadap tindakan kriminalitas seperti pencurian dan penyanderaan.

Tanpa kata sepakat dari setiap anggota keluarga, rencana darurat secanggih apapun tidak akan dapat terlaksana dengan baik. Semoga artikel diatas bermanfaat bagi Sahabat dan keluarga dalam persiapan menghadapi bencana, kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun.

Tetap sehat dan selamat..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here