Banjir Bandung di Penghujung Tahun 2016

Pagarsih 2

Sahabat, hari minggu lalu, tanggal 13 November 2016 serta beberapa hari sebelumnya, sebagian besar wilayah kota Bandung kembali terendam banjir. Banyak berita dan foto dari broadcast messages yang Kami (tim Redaksi) terima mengabarkan dan menggambarkan keadaan banjir 13 November 2016 lalu. Beberapa bencana susulan akibat hujan deras dan hujan angin ini juga terjadi di beberapa titik pusat kegiatan masyarakat kota Bandung, seperti yang dikabarkan dari broadcast messages :

“Canopy lepas di lantai atas Bandung Electronic Center (BEC)”
“Pohon tumbang di Jl. Manado”
“Hujan angin daerah Jl. Lembong, Jl. Merdeka, dan Jl. Asia Afrika”
“Sungai Citepus meluap, hati2 daerah Pagarsih”
“Stasiun Bandung banjir, jalur kereta tertutup air”
“Hujan es dan ada dahan patah melintang jl. Cihampelas dekat Hotel Novotel”
“Pohon tumbang di Jl. Otista dekat stasiun sisi selatan”
“Pohon tumbang di Jl. Serayu”
“Fashion Craft Bandung Indah Plaza (BIP) roboh, air masuk ke dalam mall”
“Banjir masuk ke RS. Mata Cicendo”
“Lingkar selatan dekat terminal Leuwi Panjang banjir”
“Perempatan Pasirkoja banjir”
“Jalan Kopo arah RS. Immanuel banjir”

Dikabarkan juga, bahwa beberapa rumah sakit terendam banjir, namun masih dapat beroperasi, Stasiun Bandung lumpuh, karena air merendam rel, sehingga lalu lintas kereta yang akan keluar dan masuk Bandung terhenti untuk waktu yang cukup lama. Hampir semua titik vital di kota Bandung lumpuh, sehingga otomatis kegiatan warga Bandung terhenti untuk sementara.

Bencana banjir memang erat kaitannya dengan curah hujan yang turun. Harian Kompas, awal tahun 2016 ini menerbitkan hasil wawancara dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memberikan prediksi tingginya curah hujan di tahun 2016 karena fenomena La Nina dan beberapa fenomena anomali cuaca lainnya. Prediksi awal tahun 2016 yang dikeluarkan BMKG ini seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah untuk segera mempersiapkan wilayah-wilayah terhadap potensi bencana pada tahun 2016.

Dari beberapa kejadian banjir yang pernah dialami kota Bandung, Walikota Bandung Ridwan Kamil yang terkenal aktif di media sosial pun sering meng-update informasi serta solusi yang disediakan oleh pemerintah kota Bandung. Misalnya perbaikan gorong-gorong di beberapa daerah, normalisasi sistem drainase, atau yang paling terkenal adalah konsep tol air yang sudah diaplikasikan di daerah Gedebage, Bandung.

Namun ternyata solusi teknis yang coba dihadirkan pemerintah kota Bandung belum bisa mengatasi seluruh permasalahan banjir di kota Bandung. Jadi, tidak hanya Jakarta saja, kota besar yang terkenal dengan banjir nya, Bandung juga sudah mulai terkenal dewasa ini.

Ada beberapa sistem penanganan banjir lain, misalnya penghijauan di area hulu dan sepanjang bantaran sungai, karena dewasa ini, pembangunan atau alih fungsi lahan semakin mengurangi area resapan air. Atau sistem retarding basin, yang lebih kita kenal dengan waduk, atau situ. Retarding basin ini bekerja terintegrasi dengan sistem drainase kota, yang kemudian menjadi tempat “persinggahan” sementara air hujan, terutama saat curah hujan tinggi yang menyebabkan overflow drainase, sebelum dia dialirkan ke tempat lain.

Secara historikal, Bandung memiliki warisan retarding basin dari pemerintah Belanda atau waduk yang memang secara alami terbentuk, namun seiring cepatnya pembangunan, terjadi alih fungsi lahan. Misalnya ada waduk di tengah kota Bandung yang dulu dikenal dengan nama Situ Aksan, namun sekarang sudah berubah menjadi pemukiman dan area komersial.

Berbicara solusi banjir, tidaklah segampang membangun saluran drainase yang baik, atau penghijauan yang banyak, karena berbicara solusi banjir melibatkan berbagai dimensi kehidupan. Dari mulai lingkungan, teknologi, sosial, budaya, bahkan dimensi politik juga akan terkait. Mengapa..?? karena banjir itu datangnya dari alam, namun berhubungan dengan sendi-sendi kehidupan masyarakat, dari mulai kebiasan, cara hidup, kebudayaan, hingga teknologi yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Jadi berbicara solusi banjir, akan berbicara masalah yang kompleks, dan butuh solusi yang komprehensif juga.

Terlepas dari solusi yang coba dihadirkan oleh pemerintah setempat, jika memang sedang terjadi anomali cuaca dan iklim, potensi untuk terjadinya bencana seperti banjir atau kekeringan akan semakin besar. Sahabat, untuk menghadapi musim hujan, cuaca ekstrem, dan kemungkinan bencana banjir, kita harus selalu melakukan antisipasi dan berbagai persiapan supaya kita dan keluarga selalu dalam kondisi sehat dan selamat. Sahabat juga bisa mengunjungi situs Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyajikan prakiraan cuaca dan analisis iklim yang sangat bermanfaat dalam perencanaan aktivitas sehari-hari.

Tidak hanya di Bandung dan Jakarta, bencana banjir ini juga perlu diwaspadai di seluruh wilayah Indonesia, terutama jika sedang terjadi anomali cuaca. Juga, jangan lupa kita harus selalu peduli akan lingkungan hidup sekitar kita. Jika bencana banjir datang, mungkin sebetulnya bukan salah siapa-siapa, karena bisa jadi itu adalah akibat dari kesalahan kolektif kita bersama karena kurang pedulinya kita dengan lingkungan sekitar.

Tetap sehat dan Selamat ya Sahabat..


Sumber foto : broadcast message terverifikasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here