Bahaya Memposting Informasi Anak di Media Sosial

informasi anak
Hati-hati posting foto anak di media sosial

Perkembangan komunikasi di era digital dewasa ini seolah memaksa kita untuk selalu berselancar di media sosial. Selain digunakan untuk mempermudah interaksi serta berbagi pemikiran dan pengalaman, media sosial juga seringkali kita gunakan untuk berbagi foto dan informasi pribadi diri sendiri dan keluarga, termasuk anak-anak. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kini semakin banyak orangtua yang gemar memposting informasi tentang anak-anak mereka di media sosial. Padahal, tren memposting informasi anak ini ternyata dapat menyimpan potensi bahaya. Maka, alangkah baiknya jika Sahabat sebagai orangtua juga dapat mewaspadai potensi bahaya tersebut agar dapat mengantisipasinya dengan tindakan yang positif.

Sebuah penelitian di Amerika menunjukkan bahwa 92% dari anak yang masih berusia 2 tahun sudah memiliki “kehadiran” di dunia online, bahkan sekitar 1/3 nya membuat kehadiran pertama mereka di situs media sosial dalam rentang waktu 24 jam setelah mereka lahir.


Bahkan sekarang sedang ramai para orangtua yang membuatkan akun pribadi anak-anak mereka di media sosial yang isinya adalah foto dan informasi pribadinya. Biasanya akun media sosial ini berisikan kegiatan sehari-hari anak dari mulai lahir hingga beberapa milestone pertumbuhan yang sedang dilaluinya. Misalnya pada saat dia mulai makan, mulai merangkak, mulai berjalan, mulai berusia 1, 2, 3, 4 tahun, dan seterusnya.

Hal ini menurut beberapa kalangan dianggap sebagai sesuatu yang romantis bagi hubungan antara orangtua dan anak-anak mereka. Anggapannya nanti ketika beranjak dewasa, sang anak dapat melihat digital diary mereka sendiri di media sosial yang sudah dibuatkan oleh orangtuanya masing-masing.

informasi anak 4
www.freeimages.com – by Stefan Petre

Berangkat dari hal tersebut, Dokter Anak Bahareh Keith, DO, MHSc, FAAP dan Profesor Hukum Stacey Steinberg, JD melakukan sebuah penelitian dan kemudian berpendapat bahwa apa yang orangtua bagikan tentang anak-anak mereka di media sosial saat ini menghadirkan risiko yang baru dan sering tak terduga. Menurutnya, setiap postingan yang kita buat di media sosial akan meninggalkan sebuah “jejak digital” yang bisa diakses oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun. Maka, jika kita tidak memperhatikan hal ini dengan baik, jejak digital yang kita buat bisa sampai ke tangan orang tidak bertanggung jawab yang malah berniat menyalahgunakan informasi tentang anak yang kita begikan di media sosial.

Menurut Steinberg, sangat dimungkinkan jika jejak digital anak yang dibuat orangtuanya sendiri dapat dicuri atau dibagikan ulang, tanpa sepengetahuan orangtua, yang berpotensi berakhir di tangan seorang pedofil atau pencuri identitas.

Selanjutnya Dr Keith menambahkan, “Orangtua sering mempertimbangkan cara terbaik untuk melindungi anak-anak mereka saat menggunakan internet. Akan tetapi, orangtua -termasuk saya sendiri, awalnya- tidak selalu mempertimbangkan bagaimana penggunaan media sosial mereka sendiri dapat mempengaruhi keselamatan anak-anak mereka“.

Sementara kita sebagai orang dewasa dapat lebih menjaga keselamatan dari berbagai macam tindakan manipulasi dan penipuan, anak kecil cenderung belum dapat menjaga dengan baik diri mereka dari hal-hal tersebut. Maka, bukan hal yang mustahil apabila berbagai tindakan negatif seperti penipuan dan penculikan kemudian langsung ditujukan kepada anak-anak tanpa sepengetahuan orangtua.

informasi anak 2
www.freeimages.com – by : tarcamion

Beberapa langkah antisipatif

Mengingat tingginya tingkat aktifitas online di Indonesia, potensi bahaya yang digambarkan di atas bisa saja terjadi di lingkungan kita. Oleh karenanya, beberapa tindakan antisipatif yang dapat Sahabat lakukan adalah:

  1. Mempertimbangkan untuk tidak melengkapi setiap postingan foto anak dengan profil atau identitas asli, atau bahkan tidak menyertakan keterangan tempat di mana postingan itu dibuat.
  2. Mengatur privasi media sosial dengan membatasi orang yang dapat mengakses postingan Sahabat. Pastikan bahwa hanya teman-teman yang kita kenal saja yang dapat melihat setiap postingan yang kita bagikan.
  3. Memastikan tidak ada orang asing yang berteman atau mem-follow akun media sosial yang kita miliki.

Untuk perhatian jangka panjang, pertimbangkan juga bahwa mungkin suatu hari nanti anak-anak kita ingin memiliki privasi dan kontrol atas identitas digital dirinya sendiri. Oleh karenanya, tarikan antara hak orangtua untuk berbagi kisahnya sendiri dan hak anak untuk memasuki masa dewasa dengan bebas untuk membuat jejak digitalnya sendiri adalah hal yang mesti dipertimbangkan sebelum memposting apapun tentang anak-anak kita.

Di samping itu, penggunaan media sosial untuk mengakses forum-forum diskusi sebagai tempat berbagi ide dan pengalaman unik dalam menangani dan membesarkan anak dapat Sahabat optimalkan untuk membudayakan aktifitas media sosial yang mungkin akan lebih positif dan bermanfaat bagi kita semua.

www.freeimages.com

Semoga kita sebagai orangtua dan calon orangtua dapat lebih waspada dengan menimbang segala risiko saat berkegiatan di media sosial. Tetap sehat dan selamat ya Sahabat.


Sumber:

https://www.healthychildren.org/English/news/Pages/Researchers-Caution-About-Potential-Harms-of-Parents-Online-Posts-about-Children.aspx

Foto ilustrasi : untitled by zenjazzygeek / CC BY

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here